Senin, 23 Februari 2015

Sekolah Bisnis

sekolah bisnis

Setidaknya ada empat jenis sekolah bisnis yang ada di dunia ini. Keempat sekolah itu memiliki keunggulan dan kekurangan masing masing.  Jika kawan – kawan mengikuti serial buku – buku Robert T Kiyosaki, keempat jenis sekolah ini sering beliau ulang dalam bukunya. Karena keempat sekolah ini adalah penjelasan dari “ayah kaya” Robert.

Keempat sekolah bisnis itu adalah sebagai berikut:

1.   Sekolah Bisnis Tradisional
Sekolah bisnis tradisional berada di perguruan tinggi atau sekolah sekolah resmi. Serta menawarkan program dengan gelar, seperti MBA. Biasanya, sebagian besar mereka yang bersekolah di sekolah bisnis dengan gelar MBA adalah mereka yang saat itu sedang menjadi karyawan di sebuah perusahaan. Mereka berusaha untuk mendapatkan pendidikan tinggi agar dapat mencapai karir yang tinggi dan tentu saja untuk mendapatkan gaji yang lebih tinggi. Bagi mereka yang saat ini sedang bekerja di perusahaan dan menduduki jabatan strategis, terutama menjalankan roda bisnis, pendidikan ini akan cocok untuk mereka, namun jika anda berpikir untuk membangun bisnis sendiri, kultur dan kurikulumnya mungkin akan sedikit berbeda dengan apa yang anda harapkan.

Saya menemukan anak Jamil Azzaini (trainer nasional) mengambil jurusan teknik industri di jerman, tujuannya ingin menjadi pengusaha tingkat dunia. Berjalan hingga beberapa semester, namun, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dan belajar langsung dari pengusaha-pengusaha sukses di indonesia. Seperti disampaikan sebelumnya, bahwa jika kita ingin membangun bisnis sendiri, seringkali kultur dan kurikulum di bangku sekolah tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sekolah memiliki kultur dan kurikulum yang sistematis, cenderung lambat. Sementara jika kita ingin membangun bisnis sendiri, kebutuhan materi belajar sering kali lompat – lompat dan tidak teratur. Sesuai dengan kebutuhan/ kasus yang dihadapi saat itu.

2. Sekolah Bisnis Keluarga

Hari ini banyak muncul pengusaha – pengusaha dan sudah memasuki generasi kedua. Kadangkala si anak yang melanjutkan bisnis keluarga atau si anak membangun bisnis mereka sendiri. Sekolah bisnis keluarga dapat menjadi pendidikan bisnis yang sangat bagus, namun kadang memiliki jebakan juga. Banyak orang tua yang tidak ingin anaknya merasakan pahitnya berbisnis seperti yang pernah dialaminya. Namun, jika orang tuanya mengarahkan si anak untuk berbisnis, seperti kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.transfer ilmu dan nilai – nilai dalam bisnis menjadi lebih mudah.

Ada seorang kawan saya, usianya antara 20-30 tahun, namun hari ini sudah mengelola perusahaan dengan omzet milyaran perbulan. Keuntungan perusahaan perbulan bisa mencapai 500-700 juta. Sejak kecil ia sudah dibimbing orang tuanya menjadi tangan kanan di perusahaan ayahnya, setelah menikah, ia dirikan perusahaan baru yang sejenis dengan ayahnya namun punya segmen pasar yang berbeda.

Abang saya juga seorang pengusaha, punya 3 anak, beberapa tahun yang lalu ia mengatakan anak-anaknya tidak usah ada yang meneruskan usahanya. Saya katakan, sayang, perusahan sudah sebesar ini tapi gak diteruskan keluarga. Alasan beliau saat itu, kasihan anak-anaknya jika harus menjalani kehidupan keras di bisnis sepertinya. Anak pertamanya saat ini jadi dokter. Tahun lalu saat pulang ke kampung, saya ada kesempatan ngobrol dengan beliau, ternyata anak keduanya diarahkan ke sekolah bisnis, tujuannya untuk menjalankan usahanya saat ini agar tumbuh menjadi lebih modern.

3. Sekolah Bisnis Perusahaan

Hari ini, perusahaan-perusahaan memiliki unit ‘pendidikan’ di internal mereka. tujuan dari bagian pendidikan ini adalah untuk mempelajari produk,strategi, pesaing. Tujuannya juga seperti sekolah bisnis tradisional, agar si karyawan semakin bertambah pengetahuannya dan ini akan berguna bagi karir mereka diperusahaan. Karyawan adalah aset yang akan menggerakkan perusahaan agar terus tumbuh. Untuk itu, sekarang banyak perusahaan berusaha mencari karyawan yang benar-benar cocok dengan perusahaan mereka.

Bagi mereka yang memang miliki niat untuk punya bisnis sendiri, pendidikan – pendidikan di perusahaan ini dapat menjadi modal berharga, selain sertifikat, kita juga mendapatkan pengalaman dan networking, kalau seandainya resign dari perusahaan tersebut. Tapi, pengalaman banyak orang, jika sudah meniti karir di perusahaan bergengsi, agaknya berat untuk keluar dan membangun bisnis sendiri.

4. Sekolah Bisnis di Jalanan

Mungkin inilah sekolah bisnis yang terberat, apalagi jika anda belajar tanpa guru. Seperti dijatuhkan di hutan belantara tanpa peta. Anda harus menemukan jalan keluar seorang diri dengan selamat.  Sekolah bisnis jalanan adalah sekolah yang buruk, guru yang kasar dan pelit dalam nilai. Belum laigi kurikulum yang tidak jelas dan cenderung acak dalam belajarnya.  Kita akan dihadapkan pada ketakutan dan keraguan. Namun, konon katanya sekolah inilah sekolah terbaik jika anda ingin menjadi pebisnis handal. Sekali anda temukan peta dan jalan keluarnya, segala jenis medan dan hutan akan lebih mudah anda taklukkan. Untuk bertahan di sekolah ini anda harus punya dua syarat awal, sabar dan gigih, agar proses pencarian jalan itu terus berlangsung walau anda sudah bertemu jalan buntu berkali kali. Karena kita yakin, jalan itu akan terbuka.

Demikianlah 4 sekolah bisnis yang ada di dunia ini, anda bebas memilih untuk memulai sekolah dari mana, tidak ada yang terbaik dan terburuk, namun sesuaikan dengan diri anda, agar anda tidak menyesal dikemudian hari. Sekali lagi, semua punya kelebihan dan kekurangan. Sesuaikan dengan diri anda, sekolah bisnis seperti apa yang cocok untuk anda.

Semoga bermanfaat


Read more

Jumat, 13 Februari 2015

Strategi Harga

strategi harga
Dalam tulisan sebelumnya saya pernah menyampaikan tentang dasar penentuan harga yang menyusun bauran pemasaran (marketing mix). Ada beberapa strategi harga yang dapat kita gunakan untuk memenangkan persaingan pasar.


Kali ini saya akan berbicara sedikit tentang sesuatu yang baru saja saya baca tentang strategi harga. Saya menemukan kalimat yang bagus, bahwa tidak selamanya produk yang murah akan dicari oleh pelanggan. apalagi perkembangan pasar hari ini yang menurut hermawan kartajaya sudah masuk ke generasi ke tiga, dimana harga bukan lagi faktor utama untuk memutuskan membeli atau tidak sebuah produk atau jasa.

Ada sebuah istilah baru bahwa konsumen saat ini lebih melihat kepada VALUE (nilai yang terkandung dalam sebuah produk). Dalam bahasa beberapa pakar marketing (hermawan kartajaya dkk) bahwa konten adalah dasarnya, namun konteks adalah formula kemenangan. (content is only basic, context is the winning formula).

Kembali lagi ke judul di atas, di generasi marketing saat ini, konsumen sudah mulai sadar dengan nilai produk, apa nilai itu? nilai adalah benefit yang kita dapatkan dibagi dengan harga yang mesti kita keluarkan. Nah, repotnya standar value masing-masing konsumen itu berbeda-beda, artinya persepsi harga yang sesuai untuk sebuah produk menjadi berbeda beda juga.

Untuk itu memang kita perlu menggali costumer insight berdasarkan budaya masyarakatnya. Pendekatan itu yang saat ini dikembangkan. cara sederhanya dengan memasuki komunitas-komunitas yang ada dalam masyarakat, karena pada dasarnya manusia suka berkelompok dan mereka akan mencari kelompok yang paling sesuai dengan diri mereka. jadi jika ingin mengetahui apa yang menjadi standar value konsumen, pelajari perilaku konsumen di komunitasnya.

Akibatnya, hari ini siklus hidup produk menjadi semakin pendek, produk sangat banyak variasinya dan jumlah yang terbatas di pasaran. Ada beberapa hal yang terkait strategi harga saat ini, antara lain:
 
Pertama strategi harga menjadi cermin positioning, menentukan harga tidak lagi hanya dengan menambahkan biaya produksi dengan marjin keuntungan yang diinginkan. Harga harusnya menetukan dan mempresentasikan positioning produk/ jasa kita di pasar. Contohnya adalah pabrikan mercedes benz pernah mengeluarkan produk untuk pasar menengah, dengan harga yang murah. Ternyata reaksi pelanggan setia mercedes benz marah, mereka memprotes kebijakan produsen. Mereka tidak ingin mercy menjadi produk pasaran. Apalagi digunakan oleh mereka yang belum memenuhi syarat untuk mengendarai mercy.

Kedua, strategi harga harus mudah dipahami dan konsisten. Kenapa harus konsisten dan mudah dipahami? Karena akan ada kebingungan di kalangan konsumen dan akan menimbulkan kesan bahwa kita (produsen) menipu mereka. apalagi saat kita memberikan harga yang tidak sesuai dengan persepsi nilai konsumen. Dan pada akhirnya akan menjadi kabar buruk saat konsumen yang kecewa akibat strategi harga yang tidak konsisten tadi adalah mereka akan menceritakan ke orang lain. Produk kita akan dipersepsikan buruk oleh calon pelanggan kita. Lambat laun produk kita akan ditinggalkan pelanggan.

Ketiga, komunikasikan strategi harga kita ke konsumen secara tepat. Salah satu caranya seperti menuliskan harga produk di kemasannya. Melalui komunikasi yang tepat, konsumen akan lebih mudah memahami produk kita diposisikan sebagai mahal, sedang atau murah.


Demikian artikel singkat tentang strategi harga, semoga bermanfaat
Read more

Kamis, 12 Februari 2015

Inspirasi Usaha : satu atau dua



Saya belajar dari statistik bahwa dalam 5 tahun dari 100 usaha yang dibuka hanya akan bertahan maksimal 4 usaha. dan saat ulang tahun ke 10 nanti akan tinggal 1 yang bertahan.

Yap, butuh waktu yang memang tidak sedikit untuk meniti karir di dunia entrepreneur, sebenarnya sama dengan kita meniti karir di perusahaan, cuma bedanya berat di entrepreneur itu terasa karena penghasilan yang lambat naiknya. Apalagi yang tidak sabar dan salah perhitungan, bukan bertambah, malah minus.

Sedangkan di perusahaan 5 tahun mungkin gak terlalu terasa "dalam" karena mereka menerima gaji, sesekali dalam setahun ada bonus dan lain lain. 

Dunia bisnis adalah lari marathon, sabar dan gigih itu dua syarat awalnya. Selebihnya bisa dipelajari sambil jalan.  Fokus dan displin itu modal berikutnya, jangan mudah tergoda bisnis orang lain, karena rejeki udah ada masing masing.

saya juga dulu seperti itu, usaha A, mentok, lalu liat orang bisnis B, ikutan, mentok lagi dan seterusnya.cSampai akhrinya saya sekarang coba untuk fokus ke Bisnis Madu dan Konveksi Seragam saja.

Teringat pesan kawan, bahwa uang bisa dibagi, waktu bisa di bagi, cuma sayangnya pikiran kita gak bisa terbagi. Mengurusi banyak bisnis (banyak tema jualan) itu bukan perkara mudah, apalagi masih dikerjakan sendiri dan tanpa sistem, Besarkan satu, lalu setelah stabil lanjut ke bisnis berikutnya. stabil ini setelah si bisnis bisa berjalan sendiri tanpa kita. Bagaimana caranya ? Buat sistemnya. gimana caranya bang? Rutin baca postingan saya. hehe

Pelajaran penting saya dapat dalam beberapa hari ini off dari dunia online, kebetulan ada pekerjaan offline yang menyita waktu dan pikiran. 

Pertama, saya punya teman, usahanya sederhana cuma jualan buku/ majalah untuk anak TK, beliau tekuni, sekarang jumlah TK yang berlangganan dengan beliau sudah berjumlah lebih dari 100 TK. belum lagi jika ada kawannya guru SD atau SMP yang pesan buku, tetap di tampung. 

Kedua, ada kawan saya lagi, usaha pokoknya jualan buku tk juga, tapi bertahun-tahun tidak juga berkembang. Kenapa? Dia memancing di tempat yang sudah banyak pemancing disana, sementara jumlah ikan segitu - segitu saja. Saya sarankan, segera hijrah, cari kolam baru, alhamdulillah sekarang walau belum lama rutin masuk hingga 3-5 kali lipat dibandingkan sebelumnya, dan beliau sudah mulai melunasi beberapa hutangnya. 

Ketiga, senior saya, berbisnis sejak kuliah, saya mengenal beliau sejak 2003, sampai hari ini, usahanya tidak ada satupun yang besar. Pernah saya bantu modal, tidak juga berkembang dan ternyata beliau punya banyak masalah dengan beberapa kawan-kawannya. Terjerat hutang yang tidak sedikit. Apa pasal? pertama, beliau tidak disiplin dengan keuangannya. masih tercampurnya keuangan pribadi dan usaha, Akibatnya uang yang seharusnya untuk modal tergerus untuk konsumsi dan pembayaran ke suplier terhambat dan menjadi hutang yang bertumpuk - tumpuk. Selain tidak disiplin dengan keuangan, beliau juga mudah tergoda bisnis orang lain. sebenarnya bisnis awal beliau cukup bagus, Karena saya juga pernah menjalaninya, tapi dilihat usaha orang bagus, ikut - ikutan, gak pernah fokus dan tidak dispilin. Sekali lagi, karena bersumber dari
gak sabar dan kurang gigih. 

ohya satu lagi, selain sabar, gigih, fokus, displin kita juga perlu ilmu agar bisa buat perencanaan yang bagus di bisnis kita. 

mari belajar lagi.

itulah sedikit cerita, kalau kamu apa ceritanya? 
Read more

Jumat, 30 Januari 2015

Profit Atau Pangsa Pasar?

Mana yang lebih penting profit atau pangsa pasar (market share)?


profit
Itulah sebuah pertanyaan yang saya lontarkan ke grup manajemen bisnis di whatsapp. Karena pilihannya Cuma dua, maka muncul hanya dua jawaban, sebagian menjawab profit sebagian menjawab pangsa pasar. Yang menjawab pangsa pasar lebih penting beranggapan bahwa dengan pangsa pasar yang besar maka profit akan tumbuh dengan sendirinya. Lalu, untuk yang memilih jawaban profit, mereka memberikan alasan bahwa profit adalah sumber nafas dari bisnis dan juga untuk menjaga keberlangsungan hidup usaha/ bisnis.


Memang keduanya memiliki fungsi yang sama pentingnya dalam bisnis, kita memang butuh pasar yang luas, namun profit harus didahulukan. Untuk menjaga keberlangsungan hidup bisnis, profit memegang peranan penting itu. bisnis yang baik adalah bisnis yang memiliki kemampuan untuk mencetak profit (profitable). Menurut Hermawan Kartajaya, profit lebih penting, karena sebenarnya profitlah yang menjadi modal perusahaan untuk bisa berkembang. Profit menjadi fondasi dari bisnis,  tanpa profit, perusahaan tidak dapat berkembang dan akhirnya akan ditinggalkan oleh tiga stakeholdernya yaitu : pelanggan, masyarakat dan investor.

Satu alasan lagi mengapa profit menjadi penting, profitabilitas diartikan sebagai kemampuan perusahaan untuk mecetak laba pada tingkat yang dapat diterima.  Nilai profitabilitas menjadi acuan seberapa sehat perusahaan. Jika kita berada pada posisi sebagai seorang calon investor yang ditawari untuk berinvestasi pada sebuah perusahaan, tentunya yang menjadi acuan pertama kita adalah seberapa besar laba / profit yang dihasilkan perusahaan. Kemudian jika kita berinvestasi, berapa kemungkinan peningkatan laba yang dihasilkan perusahaan. Dan bukan pangsa pasar yang pertama sekali kita perhatikan.

Pada akhirnya, bagi kawan – kawan pengusaha muda, pemula, yang baru merintis usaha, mengembangkan pasar itu penting, namun anda juga harus lebih memperhatikan seberapa besar profit yang kita dapatkan. Karena profitlah yang menjadi fondasi keberlangsungan hidup sebuah usaha. Pikirkanlah bagaimana usaha kita memiliki profit yang baik, sembari kita kembangkan pasar yang ada.

Dalam tulisannya beberapa waktu yang lalu Hermawan Kartajaya memberikan contoh 2 raksasa internet google dan yahoo. Penghasilan google 99% dari iklan, adwords dll. Sedangkan yahoo penghasilannya 88% dari layanan marketing. Yahoo memang lahir duluan, populer duluan dan punya pasar besar lebih dulu, tapi terlambat menemukan model bisnis yang tepat untuk mereka, akhirnya mereka ditenggelamkan google.  Jadi, profit tetap nomor satu, percuma punya pasar yang luas jika tidak mampu menghasilkan profit.


Semoga bermanfaat kawan. 
Read more

Rabu, 28 Januari 2015

3 alasan pelanggan semakin sulit dimengerti

Artikel ini terinspirasi dari apa yang pernah ditulis oleh Hermawan Kartajaya dalam tulisan berseri di kompas.com dan koran kompas. Tulisan tersebut telah terbit tahun 2008 atau sekitar 6 tahun yang lalu.  Walau kesannya sudah lawas, tapi pembelajaran yang bisa kita ambil dari artikel itu masih cukup relevan dengan kehidupan kita saat ini. Terutama bagi kita yang berkecimpung di dunia marketing.

Artikel lawas itu berjudul seberapa dalam anda memahami pelanggan anda?

Di dunia marketing yang senantiasa berkembang sampai saat sekarang ini, ternyata tantangan untuk memahami konsumen semakin sulit. Jika dahulu kita tidak perlu membaca kebutuhan dan keinginan pelanggan, cukup produksi banyak – banyak lalu pasarkan, barang akan laku dengan sendirinya. Namun, sekarang model itu tidak bisa lagi kita gunakan. Kita harus membaca selera konsumen, lalu menyediakan produk barang/ jasa yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya tersebut.

Dan hari ini, tantangan menyelami kebutuhan dan keinginan pelanggan itu jauh lebih sulit, karena apa? Setidaknya ada 3 hal yang disampaikan Hermawan Kartajaya dalam artikel tersebut.

Pertama, pelanggan ingin terliat baik. Costumers want to look good. Mereka tidak igin terlihat jelek atau kekurangannya diketahui  orang lain. Coba tanyakan kepada laki – laki yang baru saja keluar dari toilet umum, apakan mereka mencuci tangan mereka? kita tentu yakin bahwa jawaban mereka adalah sudah, walaupun kenyataannya tidak demikian. Hal ini terjadi karena memang dari sananya, kita cenderung enggan mengungkapkan hal – hal yang dapat membuat kita malu atau menunjukkan kekurangan kita.

Kedua, banyak bias yang bisa muncul kalau kita sengaja ditanya tentang suatu hal. Ini terjadi antara lain karena pengaruh lingkungan kita atau kita kesulitan mengungkapkan maksud yang sebenarnya.

Contoh, ketika seseorang ditanya warna mobil kesukaannya, kebanyakan akan menjawab hitam, walau belum tentu juga yang mereka sukai pasti hitam. Disini letak biasnya, karena sehari hari mereka melihat banya
k mobil warna hitam. Atau ketika ditanya tentang rasa masakan/ makanan. Cenderung jawabannya general, enak atau tidak enak. Saat diminta untuk menjelaskan enak seperti apa atau tidak enak seperti apa, kita akan kesulitan menjawabnya.

Ketiga, yang membuat pelanggan makin sulit dimengerti adalah mereka makin gampang untuk bohong. Hal ini terutama didorong oleh kemajuan teknologi. Orang tidak perlu lagi bertemu langsung face to face, cukup via telepon,, email, chatting online dan media sosial.

Contoh sederhana, banyak laki laki yang sehari hari adalah seorang pendiam, namun menjadi sosok yang sangat romantis dalam kata kata saat di media sosial. Banyak bicara via chat online dan lain lain. Banyak juga aku – akun di media sosial yang menyembunyikan identitas asli, mereka yang pria kadang membuat akun wanita atau sebaliknya. Dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, kita tidak lagi bisa membaca bahasa tubuh yang sulit sekali untuk berbohong.

Ketiga hal ini akan sangat mempengaruhi hasil dari riset pasar yang kita lakukan. Hasilnya sering tidak sesuai dan ujung – ujungnya strategi marketing yang kita buat menjadi tidak berguna alias gagal.

Lalu bagaimana cara memahami pelanggan ini?

Ada sebuah ungkapan menarik dari CEO Worldwide Saatchi & Saatchi, Kevin Roberts, “if you want to understand how a lion hunts, don’t go to the zoo. Go to the jungle.”

Studi yang dilakukan untuk mendapatkan ‘needs and wants’ pelanggan seperti ini dikenal dengan ethnography marketing, akar dari metode ini adalah ilmu antropologi, yaitu untuk memahami bagaimana orang membeli, menggunakan, atay merelasikan dirinya dengan sebuah produk. Lokasi riset dilakukan di tempat sehari-hari pelanggan beraktivitas, dirumah, kantor, toko, di even konser dan lain lain.

Demikianlah 3 alasan pelanggan makin sulit dimengerti, namun kendala itu dapat diatasi dengan pendekatan riset etnography marketing yang meneliti dikeseharian mereka. insyaAllah dilanjutkan pada pembahasan berikutnya.


--- 

baca juga : 

Read more

Selasa, 27 Januari 2015

Belajar Bisnis Untuk Pemula : Sikap Mental

Sikap Mental Pengusaha

sikap mental pengusaha
Kadang kita membaca postingan para master di dunia internet marketing berupa screen shoot penghasilan mereka, postingan beberapa deal bisnis yang nilainya menggiurkan dan lain sebagainya. Lalu kita menjadi tertarik dan akhirnya ingin juga ikut serta dalam jalan yang sudah dilalui para mastah tadi. Salahkah? Tidak kawan, anda punya hak yang sama untuk menuai sukses di jalan itu.

Namun, dalam prakteknya, tidak banyak yang bertahan hingga akhirnya memperoleh penghasilan yang bisa dibilang membanggakan. Kebanyakan mereka gugur ditengah jalan karena tak kunjung mencapai apa yang sudah mastah dapatkan. Mereka merasa ditipu karena angin surga yang disampaikan para mastah itu ternyata memang benar – benar angin surga. Kita putus asa dan akhirnya mundur teratur

Begitu juga dengan bisnis offline, berdasarkan statistik masa lalu bahwa dalam 100 bisnis yang dibuka, dalam 5 tahun 100 bisnis tadi hanya menyisakan 4 bisnis, dalam 10 tahun hanya menyisakan 1 bisnis yang benar benar berhasil.

Bertahan dalam Bisnis, Bagaimana?

Pertama sekali yang harus kita perbaiki adalah sikap mental kita. Kebanyakan kita lupa bahwa untuk berhasil itu ada harga yang harus dibayarkan/ dikorbankan. Harga itu bisa berupa materi dan juga waktu. Kita mungkin bisa membayar materi yang dibutuhkan untuk usaha, namun tidak untuk waktu.

Ada dua sikap mental yang harus dimiliki oleh semua orang yang ingin menjalani hidup sebagai seorang pebisnis, pengusaha, penjual atau marketer. Pertama adalah kegigihan dan kedua adalah kesabaran. Kegigihan dan kesabaran adalah dua kunci untuk menaklukkan waktu.

Apapun media bisnis kita, baik secara online atau offline, kedua sikap mental ini menjadi modal dasar untuk terus bertahan dalam dunia tanpa kepastian ini. Karena memang satu hal yang pasti adalah ketidak pastian itu sendiri.

Untung dan Rugi dalam Usaha

Bagi yang sudah lama menggeluti bisnis pasti pernah merasakan apa yang namanya rugi, mulai dari yang kecil hingga yang besar. Saya pribadi pernah beberapa kali rugi, baik itu karena memang gagal berproduksi, barang tidak laku, hingga uang dibawa lari suplier.

Bagi yang ingin menghabiskan hidup dalam bisnis, rugi adalah makanan sehari hari. Tidak ada yang harus disesalkan dengan kerugian dialami. Semua itu ibarat jamu yang justru menguatkan, semakin memiliki sudut pandang yang lebih luas. Ibarat ujian kenaikan kelas, kerugian itu ujiannya untuk masuk dalam fase/ tingkatan bisnis yang lebih tinggi.

Kerugian adalah cara Tuhan mengingatkan bahwa ada yang salah dengan langkah yang kita ambil, sehingga harus kita evaluasi lagi langkah-langkah yang kita jalani. Semakin besar bisnis, semakin besar nilai perputaran uang, faktor rugi juga mengikuti. berbanding lurus.

Selanjutnya yang perlu kita kuasai adalah bagaimana meminimalkan faktor resiko rugi itu. Untuk manajemen resiko insyaAllah akan saya sampaikan pada cerita selanjutnya.

Sekali lagi, dua sikap mental, Sabar dan gigih inilah yang menjadi tameng agar kita mampu memandang kerugian sebagai obat kuat, pahit memang, namun disana memberikan kekuatan untuk langkah selanjutnya. 

Kesabaran berlapis memberikan bisikan pada pikiran, bahwa kerugian akan semakin mendekatkan kita dengan keberhasilan. 

Kegigihan memberikan extra fuel (bahan bakar tambahan) untuk terus melangkah. Sehingga faktor waktu yang sering memukul KO banyak pengusaha pemula, lebih mudah ditaklukkan.


------ 

baca juga : 


Read more

Sabtu, 24 Januari 2015

Belajar Bisnis Untuk Pemula (bag. 1)

Bagian Pertama : Belajar Bisnis Untuk Pemula


bisnis untuk PemulaKETUPAT

Saya lupa kapan persisnya saya mengenal yang namanya bisnis. Seingat saya di kelas 3 SD menjelang lebaran, saya pernah diminta ibu saya untuk mencari janur kuning untuk dibuat menjadi sarang ketupat. Kebetulan sekali disekitar rumah kami banyak pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi. Keesokan paginya mulailah saya keliling perumahan untuk menjajakan sarang ketupat hasil karya ibu saya.


Waktu itu saya jual setiap 10 buah harganya Rp. 200, biasanya ibu – ibu rumah tangga akan mengambil minimal 30 buah. Namanya mamak – mamak, pantang jika tidak menawar, dagangan saya ada yang tawar 300/ 30 buah dan sebagainya. Saya hanya lepas Rp. 400/ 30 buah. Ternyata hasil keliling 2 hari membuat banyak ibu ibu lain yang pesan hingga ratusan. Saya mulai kerepotan mencari janur. Akhirnya saya ajak kawan untuk ambil janur, saya bayar setiap pohon kelapa Rp. 500. Itulah awal saya mengenal jualan. Dan kenangan itu yang membuat saya hari ini kembali menjalani profesi sebagai penjual.

Sebenarnya saya gak begitu suka menjadi sales. Saat kuliah yang terpikir oleh saya nantinya jika bekerja maka saya harus menghindari posisi marketing atau sales. gak tau juga kenapa saya menghindari posisi itu, belakangan saya tahu bahwa jika anda ingin bekerja dan punya penghasilan tinggi, maka kejarlah posisi sebagai marketing. 

Biasanya marketing memiliki bonus jauh lebih besar dari yang lain. Marketing memiliki peluang untuk bertemu dengan banyak orang, anda punya kesempatan memiliki jaringan yang kuat. Posisi marketing memberikan anda kebebasan untuk tidak selalu berada di kantor, anda bebas keluar kantor di jam – jam kerja. Dan posisi marketing anda akan mempelajari skill dasar untuk membangun usaha. Sampai ada pepatah mengatakan, no marketing no living.

Alhamdulillah, hari ini saya justru banyak bergelut dengan dunia marketing, mempelajari marketing dan berharap bisa mengajarkan ilmu marketing kepada orang lain. Ilmu marketing ternyata ilmu mahal.

Mungkin sudah beberapa kali saya katakan bahwa,  jika anda ingin menjalani bisnis, maka pertama yang harus anda kuasai adalah marketingnya, lalu jika anda ingin usaha anda besar, maka kuasai ilmu keuangannya.

Mungkin ini sebagai pengantar cerita kita, akan ada beberapa tulisan lagi yang akan anda baca. Sebenarnya ini nanti akan menjadi sebuah ebook yang akan saya bagikan gratis, setelah semua tulisan muncul di manajemenusaha.com .

Selanjutnya kita akan cerita tentang sikap mental untuk berhasil dalam bisnis, ada juga mitos – mitos yang kita yakini seputar bisnis, tentang resiko, apa yang harus dipelajari dalam bisnis, dan apa yang harus segera dilakukan, dan beberapa cerita teman – teman saya yang sudah berhasil dalam bisnis dan apa saja kita mereka berhasil lebih cepat.


Semoga bermanfaat kawan kawan.
Read more