Selasa, 22 Desember 2015

Tips Manajemen Keuangan Usaha Sederhana

Dengan omzet 100 jutaan per hari tentunya bagi kita pemula menganggap itu sebagai bisnis yang luar biasa, tapi abang saya melihatnya dari sisi yang lain. Beliau merinti bisnis ayam potong sekitar 17 tahun yang lalu. Ia memulai dengan dua kandang, siang istrinya yang menjaga, malam beliau yang jaga. Waktu itu belum ada pagar keliling seperti sekarang. Bisnisnya tumbuh hingga mencapai penjualan 5000  - 10.000 ekor perhari. Bayangkan jika harga ayam perekor 20.000, maka omzet perhari mencapai 100  - 200 juta rupiah. Bisa dibilang beliau adalah penguasa pasar ayam potong di daerah kami. 

Namun, tahukah kawan  -  kawan, bisnis itu bangkrut.

Ya, abang saya katakan bahwa bisnis ayam potongnya bangkrut. Tapi jangan bayangkan ketika bangkrut semua asetnya hilang, tidak. Asetnya tetap ada dan dimanfaatkan untuk bisnis ayam juga, tapi bukan pedaging, petelur.

Kenapa beliau katakan bangkrut? Pertanyaan ini menjadi menarik.

Kemarin saat saya pulang kampung dan menyempatkan diri datang ke kandang, kami banyak bicara soal bisnis. Beliau bicara pengalaman selama ini dan saya bicara dari sisi bisnis online yang saya tekuni setahun belakangan ini.

walau beliau mencetak penjualan yang lumayan besar, namun ternyata semua itu hanya hitung  - hitung di atas kertas. Tidak dalam kehidupan yang nyata. Karena apa?

Sebelum saya jelaskan, satuhal yang saya catat dari perjalan bisnis saya yang masih seumur jagung. Bahwa memang penjualan menjadi tulang punggung bisnis, tanpanya bisnis tidak dapat tegak. Namun untuk membuat bisnis bisa tegak dan berjalan, kita butuh Uang Cash. Dialah darah, dialah jantung.

Dan kebanyakan pengusaha pemula seperti saya, mudah silau dengan besarnya angka penjualan alias omzet. Pikiran kita langsu mencoba menghitung berapa LABA yang dihasilkan, secara kasar jika penjualan sekian rupiah dan modal sekian rupiah maka kita mencatatkan laba sekian rupiah. Namun, kebanyakan pemula seperti saya ini lupa satu kaidah dalam manajemen keuangan. Laba adalah sesuatu yang SEMU, sedangkan yang nyata adalah ARUS KAS.

Lalu, apa kaitan ini dengan cerita bisnis abang saya yang bangkrut?

Abang saya mengatakan bahwa di bisnis ayam potong, ia menggunakan sistem bayar mundur, alias para agen atau langganan besarnya boleh HUTANG, dan dibayar ketika si agen mendapatkan uang dari penjualannya. Dan itu kesalahan dalam manajemen keuangan usaha yang saya catat. Memberi HUTANG. Mengapa jadi salah? Sudah jadi tabiat kebanyakan orang, mudah berhutang, sulit membayar. Abang saya kesulitan mencairkan piutang  - piutangnya yang nyangkut di agen  - agennya. Ada saja alasan untuk menunda pembayaran. Si agen lupa bahwa abang saya juga butuh dana segar untuk menjalankan bisnisnya.

Hutang macet, ibarat stroke pada tubuh manusia, ada aliran darah yang tersumbat.
Walau secara catatan omzet tinggi, laba muncul, tapi saat dihitung uang cash sesungguhnya, uangnya tidak ada. Di saat yang sama, beliau harus membayar tagihan  - tagihan yang muncul, beliau kesulitan.

Saya teringat teman saya, seorang manajer di tupperware, omzet sekitar 300 jutaan sebulan. Ia menjalankan sistem yang berbeda dengan kebanyakan agen tupperware lainnya. Ia memegang prinsip harus cash no credit. Walau pasar tupperware adalah ibu  - ibu dan ibu  - ibu adalah pecinta sejati sistem kredit, ia tetap tidak mau menggunakan sistem itu. dan hasilnya, bisnisnya tumbuh terus kok.

Lalu, saat saya memulai karir bisnis saya, yang saya lakukan adalah menjual komputer. Kebetulan sekali ada saudara mau beli komputer, saya sedikit banyak tahu tentang komputer. Akhirnya saya sanggupi untuk mencarikan beliau komputer sesuai dengan spesifikasi yang diminta. Saya berangkat ke kota, lalu membeli sebuah komputer dengan cash. Lalu saya jual dengan sistem kredit, tentunya dengan menambahkan sejumlah keuntungan yang menurut saya cukup adil. Membeli cash, menjual kredit. Betapa bodohnya saya saat itu. dan hasilnya bisa ditebakkan? Gulung tikar.

Lalu bagaimana dengan bisnis ayam petelur abang saya tadi? Setelah ia menyadari bahwa bisnis ayam potongnya sedang mengalami penurunan, ia mulai langkah baru, yaitu mulai mengganti kandang ayamnya menjadi kandang ayam petelur. Pelan pelan beliau masukkan bibit ayam petelur. Ia ubah haluan pelan  - pelan. Dan tahukah kawan, untuk ayam petelur ini, beliau tidak menerima hutangan. Mesti dibayar cash dimuka. Ada uang ada barang. Walau pelanggannya tidak sebanyak ayam petelur karena kebiasaan hutang tadi. Abang saya lebih nyaman menjalani bisnis ini. Tidak lagi dipusingkan dengan masalah tagih menagih hutang. Dan hari ini omzet hariannya sudah mendekati angka 100 juta lagi.

Dan yang ingin saya tegaskan disini adalah dalam mengelola keuangan usaha, apalagi dengan modal yang terbatas. Hindari Hutang piutang. Walau hutang itu sejatinya dibolehkan, sebelum kita terlena dan akhirnya terjebak dalam jerat hutang yang semakin besar. Baiknya hindari.

Saya teringat seorang teman, pengusaha konter hape, dari supliernya sudah berikan lampu hijau untuk bawa dulu barang, bayar secara cicil setiap minggu atau perbulan. Teman saya ini tetap keukeh tidak mau pakai sistem itu. karena apa? Ia menghindari hutang piutang. Biar kemampuan ia membeli barang untuk stok sedikit, daripada pusing mikirin hutang. Dan bisnisnya berkembang kok, ada 5 cabangnya.

Dan terakhir sebelum lupa, mas jaya setiabudi dalam statusnya beberapa minggu yang lalu mengatakan bahwa beliau mengakui kesalahannya, ketika mengajarkan bahwa gunakan sistem bayar mundur untuk mengakali ketiadaan modal usaha. Sekarang beliau menganjurkan lebih baik bayar cash, agar lebih adil untuk kedua belah pihak. Agar tidak ada pihak yang dizolimi.

Dan sekarang, prinsip ini saya bawa dalam bisnis jual beli MADU yang saya kerjakan sekarang. Keuangan kita stabil, laba terlihat dan arus kas lancar. Pernah reseller saya minta keringan dengan membayar madu yang dibeli dari saya selama 3 bulan. Memang jumlahnya besar. Target penjualan 1 bulan. Tapi, saya katakan tidak bisa, karena saya  beli madu ini ke suplier dengan uang cash. Secara logikakan gak ketemukan, uang cash dibayar dengan uang kredit.

Mudah  - mudahan kita semua dimudahkan untuk menjalankan bisnis, arus kas lancar dan bisnisnya selalu tumbuh. Bisnis yang sehat bukan hanya penjualannya tinggi, tapi aruskasnya lancar. Jadi, ingat tips dalam memanajemen keuangan bisnis, sederhana saja : hindari hutang dan piutang. Semoga bermanfaat

Saya , Bag Kinantan.


Silahkan share jika anda merasa ada manfaatnya. 

Senin, 30 November 2015

Tips Manajemen Keuangan Usaha


Ada banyak sekali tips di luar sana tentang manajemen keuangan usaha. Tapi saya ingin menuliskan apa yang pernah saya alami dan sedang saya kerjakan hari ini. Dalam sebuah buku tentang bagaimana menjadi seorang MBA (master administrasi bisnis) saya membaca bahwa laba adalah sesuatu yang semu sedangkan arus kas adalah nyata.

tips manajemen keuangan usaha

Teringat dengan tulisannya mas Jaya Setiabudi bahwa usahakan semua transaksi bisnis kita dalam bentuk cash, jangan lagi menggunakan model hutang (bayar mundur), walau sah sah saja jika kita melakukan ini. Menurut saya, inilah inti dari proses manajemen keuangan kita. Apalagi untuk usaha pemula dan dengan modal yang kecil serta pengalaman manajemen keuangan yang sangat minim.

Ya, seberapa baik putaran uang cash usaha kita akan menentukan kesehatan dan umur bisnis kita.

Saya punya teman, seorang manajer di tupperware, beliau menggunakan model transaksi cash, walau kawan kawannya menggunakan model kredit. Biasanya ibu  - ibu lebih suka kalo kredit ketimbang cash. Tapi beliau tidak takut kehilangan pelanggan, bahkan makin banyak. Sebulan omzetnya tembus 300 juta. Ketika saya tanyakan ke beliau, kenapa pakai model ini, beliau menjawab “ini bisnis saya, saya bertanggung jawab penuh di dalamnya dan saya yang paling tahu bagaimana kondisi bisnis saya. Jika yang tidak ingin berbisnis dengan saya, ya gak apa apa, silahkan cari yang lain.” Hanya saja, karena pelayanan beliau prima, langganannya nyaman berbisnis dengan beliau.

Contoh lain, kakak kandung saya yang paling besar. Bisnisnya ayam potong, ayamnya sudah ratusan ribu, putaran ayam perhari mencapai 10.000 ekor. Namun 2 tahun belakangan ini beliau tinggalkan bisnis ayam potongnya dan beralih ke ayam petelur. Waktu saya tanya kenapa? Beliau menjawab, bisnis ayam potong itu pakai sistem pembayaran mundur (hutang) terakhir sulit menagihnya dan kita kesulitan uang cash. Sebenarnya bisa dikatakan usaha ayam potongnya bangkrut. Jadi sekarang kita gak ternak lagi, Cuma ambil dari petani lalu kita jual lagi dengan sistem cash (eceran), gak ada resiko, gak pusing menagihnya. Dan untuk bisnis ayam petelurnya beliau pakai model pembayaran cash. Walau untung lebih sedikit, tapi putaran uang lancar.

Dan dulu sewaktu memulai usaha, saya juga melakukan kesalahan ini, menjual dengan sistem kredit, pikiran saya waktu itu, yang penting barang keluar dulu. Ternyata setelah itu saya kesulitan, karena ketiadaan uang cash. Untuk itulah di usaha terakhir saya ini, saya putuskan memakai skema pembayaran cash, agar tidak menyulitkan kedua belah pihak. Tidak ada yang merasa terbebani dan terdzolimi.

Inilah tips manajemen keuangan usaha buat pemula yang saya kerjakan dalam beberapa bulan ini, hindari hutang dan piutang. Jaga putaran keuangan cash selalu positif. Jika kawan kawan sudah menerapkan ini, usaha kawan kawan akan jauh lebih sehat.

Memang untuk membesarkan bisnis kita butuh modal tambahan dan salah satu cara untuk mengakalinya adalah dengan “berhutang” ke suplier. Jika kita punya nama baik di suplier mungkin bisa saja kita diberikan “pinjaman” barang untuk di jual lebih dulu lalu bayarnya mundur. Namun sebaiknya lakukan cara lain untuk mengakalinya. Salah satunya dengan menggaet investor, dalam tulisan sebelumnya sudah saya jelaskan beberapa tips bagaimana cara menggaet investor. Silahkan baca  - baca lagi. Ada banyak cara untuk mengakali agar bisnis kita bisa tumbuh dan membesar,

Semoga tips manajemen keuangan usaha untuk pemula ini dapat menginspirasi bagaimana menjaga keuangan usaha kita tetap sehat.

Bersambung....

=====

Tema tulisan ini terinspirasi dari diskusi pagi ini di grup WA #cakapbisnis 2 Soal Hutang dan Piutang.


Minggu, 29 November 2015

Belajar (lagi) Cara Menyusun Segmentasi Pasar

Saat membaca - baca ulang tentang re –profilingnya mas Jaya Setiabudi saya jadi berpikir, sepertinya ada yang salah dengan segmentasi dan target pasar yang saya susun dalam bisnis model refillmadu.com dan ini menuntut untuk segera diperbaiki. Seperti yang pernah saya tulis di status FB beberapa hari yang lalu, bahwa ada beberapa produk yang memiliki segmentasi dan target pasar tersendiri namun dalam prakteknya kami masih mengeneralisir ke beberapa kriteria profil target pasar saja.



Nah, kebetulan sekali saya lagi baca ulang buku “mahalnya” pak Laksita, ada sedikit bahasan tentang segmentasi pasar. Di dalam buku ini, pak laksita menjelaskan bahwa pada dasarnya segmentasi pasar itu terbagi menjadi 3 kelompok besar, pertama segmen bawah, menengah dan atas. Masing masing segmen memiliki keunggulan dan kelemahan masing  - masing.

Untuk segmen kelas bawah, inilah segmen dengan jumlah populasi paling besar. Kriteria mereka saat membeli produk berpusat pada kuantitas dan harga. Jika produk yang kita jual memenuhi ekspektasi mereka akan dua hal ini maka penjualan akan terjadi. Contoh yang paling gampang adalah warteg atau rumah makan padang serba 8000. Jumlah banyak, harga murah, dan mereka tidak terlalu peduli dengan rasa/ kualitas masakannya.

Menjual di segmen ini kelebihannya adalah jumlah populasinya sangat tinggi, sekali membeli banyakpun mungkin saja terjadi, namun kelemahannya kita akan sedikit repot melayaninya dan satulagi profit yang dihasilkan terbilang rendah. Tingkat persaingan juga sangat tinggi, perang harga tidak dapat dihindarkan.

Segmen kedua dalah segmen menengah. Pada kelas ini pasar mulai cerdas, mereka sensitif dengan harga namun mulai kritis terhadap kualitas, saat kualitas dan harga sesuai dengan ekspektasi mereka, mereka akan membeli. Terkadang, produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan, namun karena kebutuhan akan gengsi, mereka membelinya. Biar dibilang kekinian. Mereka biasanya terlihat di mall, makan di restoran menengah dan dari segi jumlah mereka mulai berkurang, namun dengan strategi harga yang tepat, pasar ini tetap gurih untuk digarap.

Segmen terakhir adalah kelas atas, mereka sangat tidak mempermasalahkan harga, bagi mereka asal kualitas produk yang ditawarkan ke mereka memiliki kualitas premium dan dapat menunjang penampilan mereka, mereka akan beli. Cara berpikir segmen ini agak unik, bagi mereka harga yang mahal menunjukkan kelas sebuah produk. Walau kadang dari sisi bahan tidak berbeda dengan bahan kelas menengah. Namun, untuk kelas atas ini ada satu hal yang harus diperhatikan oleh setiap produsen/ pengusaha yaitu Kesempurnaan. Kelas ini tidak ingin terlihat ada kekurangan, mereka butuh produk yang sempurna di mata mereka.

Dengan penjelasan di atas, saya berharap kawan kawan mendapat satu inspirasi, sebenarnya produk yang kita jual ini berada pada segmen yang mana. Tugas kita selanjutnya adalah menyusun “profil” segmen yang kita bidik. Misalnya segmen menengah, kira  - kira kriteria pasar yang disebut segmen menengah itu seperti apa? Apakah mereka bekerja? Apa pekerjaannya?Dengan penjelasan di atas, saya berharap kawan kawan mendapat satu inspirasi, sebenarnya produk yang kita jual ini berada pada segmen yang mana. 

Tugas kita selanjutnya adalah menyusun “profil” segmen yang kita bidik. Misalnya segmen menengah, kira  - kira kriteria pasar yang disebut segmen menengah itu seperti apa? Apakah mereka bekerja? Apa pekerjaannya? Berapa penghasilannya? Tinggal dimana? Bagaimana aktivitas berbelanjanya, apakah sudah mulai beralih ke online atau belum? bagaimana lingkungan pergaulannya (komunitas yang diikuti)? Dan lain lain. Semakin detail semakin bagus.


Mungkin ini dulu sebagai pengantar, jika ada yang ingin didiskusikan monggo, seputar segmentasi dan target pasar. 


sumber gambar disini 

Selasa, 24 November 2015

Mentalitas “Saya TAHU!”

mentalitas saya tahu

Bicara tentang mentalitas Saya tahu, 

Saya teringat kisah sepasang suami istri yang datang ke universitas harvard, siapa yang belum tahu harvard? Sebuah universitas ternama dan tertua di amerika serikat. Kedua orang tua ini adalah orang tua dari salah satu mahasiswa di harvard yang ingin bertemu dengan rektor. Mereka berpakaian biasa karena mereka tinggal di peternakan.

“Kami ingin bertemu dengan rektor.” Kata mereka di meja sekretaris rektor. Namun, sayang saat itu rektor sedang ada pertemuan. Mereka menunggu hingga rektor selesai pertemuannya.

Setelah lama menunggu orang tua ini berkesempatan bertemu dengan rektor. Ketika bertemua mereka memberitahukan kalau mereka adalah orang tua dari seorang mahasiswa.

“Anak saya kuliah di  harvard dan sangat menyukai sekolah ini. Anak saya sudah meninggal. Maksud kedatangan saya  kesini adalah untuk meminta izin pada Bapak untuk membuatkan tugu untuk anak saya di sekolah ini, terserah dimana.”

Mendengar maksud ini rektor marah marah. “Apa  - apaan ini? Memangnya sekolah ini taman makam? Mana mungkin setiap anak yang menyukai sekolah disini, meninggal terus minta dibuatkan tugu disini, lama lama jadi sekolah tugu. Tidak bisa!!”

“tapi, bolehkah kami membeli sebagian tanah di harvard ini?” orang tua tadi tidak menyerah.

“Jangan macam macam ya, kami membangun sekolah ini menghabiskan dana $7,5 juta.” Sahut Rektor sengit.

Ketika rektor menyebut angka, orang tua tadi diam, mereka saling berpandangan. Tiba tiba sang istri mengatakan, “ Kalau Cuma $ 7,5 juta, kenapa tidak kita buka sekolah sendiri saja ya?”

Lalu dibukalah STANFORD UNIVERSITY di Palo Alto California, karena kemauan kedua orang tua tadi ditolah Rektor Harvard.

====

Ketika prinsip Saya Tahu, I Know, lebih dikedepankan. Jika mentalitas rektor adalah menggali apa maksud dan tujuan orang tua ini, mungkin akan terjadi akhir cerita yang berbeda. Seharusnya sang rektor coba menggali kenapa sih orang tua itu memiliki rencana seperti itu? Namun, nyatanya mental I know nya lebih kuat.

Dalam penjualan juga kita kenal prinsip “yang bertanya yang menang”

Konsumen perlu kita gali kebutuhannya atau apa harapannya. Saat seorang penjual menjunjung mentalitas, saya tahu. Maka bisnisnya tidak akan bertumbuh lagi.

Kata kata i know adalah dua kata yang diharamkan oleh PENGUSAHA TERKENAL. Mereka berpikiran terbuka dan mereka tidak pernah berkata “I Know”, namun mereka mengatakan “ Hm... menarik..”

Termasuk ketika ada Penawaran  - Penawaran yang datang kepadanya. Mereka tidak serta merta menolak, namun mereka akan munculkan sikap mental siap menerima masukan atau menerima cerita, terkait keputusan akhirnya menerima atau menolak penawaran itu persoalan lain. Mereka yang berpikir terbuka, akan belajar dari siapapun untuk memperkaya sudut pandangnya.


Saat kita berkata “saya tahu” maka saat itu kita menutup diri dari kemungkinan untuk bertumbuh. Kita akan berhenti bertumbuh saat kita berhenti belajar. 

*sumber cerita buku big brain big money
** sumber gambar : thehealingcoach(dot)com

Jumat, 13 November 2015

Sampai Kapan ? (Catatan Siklus Hidup Produk)

Bicara tentang siklus hidup produk, saya teringat pesan guru selling kami, saat saya datang menemuinya beliau menyampaikan sebuah pertanyaan, "mau sampai kapan?"

Pertanyaan beliau ini bermula dari diskusi kami tentang satu produk suplemen dan kedua tentang market share produk tersebut. Dalam analisis kami waktu itu, produk suplemen tidak akan mudah dihitung market sharenya, hal ini disebabkan karena dua hal. Pertama jika produknya bermanfaat maka tujuannya minum suplemen tersebut akan tercapai, dan kedua tidak bermanfaat, maka ia tidak akan membeli lagi.

Lalu apa yang harus dilakukan? Teman saya mengatakan, "cari pasar baru..."

Lalu guru kami mengatakan, "mau sampai kapan?" Mau sampai kapan kita terus mencari pasar baru, menggali kebutuhan orang orang baru?

Ah iya juga ya...

Jika kondisinya seperti itu, lambat laun pasar akan maturity dengan sendirinya dan kita akhirnya kita sendiri akan jenuh menggarap pasarnya. Dan terjadilah apa yang dikatakan statistik bahwa usia bisnis yang lulus ujian 5 tahun pertama hanya 1 % dari 100 bisnis yang dibuka.

Seperti kita pelajari dalam siklus hidup produk, bahwa hidup sebuah produk apapun itu dimulai dari fase perkenalan, lalu tumbuh (grow), dewasa (maturity) lalu penurunan (decline).

Sebagai pebisnis kita wajib mengetahui dan menyadari hal ini, bahwa produk kita tidak mungkin selamanya menghasilkan. Akan ada fase dimana ia akan mengalami kejenuhan dan akhirnya menurun.

Lalu apa solusi untuk mengantisipasi kondisi ini?

Jawabnya hanya satu, INOVASI

Inovasi yang dimaksud dapat melalui inovasi produk atau inovasi dari sisi marketing. Kawan - kawan bisa gali lagi apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan produk kita di pasaran. Seperti produk kami yaitu MADU, maka terobosan apa yang harus kami lakukan agar pasar tetap tumbuh dan berkembang.

Semoga cerita ini dapat menggugah kita agar menjadi lebih baik. Salam.

Sampai kapan?


Rabu, 11 November 2015

Bisnis Modal 5 Juta - Jamur Tiram

Artikel ini adalah lanjutan artikel Bisnis Modal 5 Juta sebelumnya.

Bisnis modal 5 juta jamur tiram

Menjadi pengusaha bukanlah kebiasaan keluarga besar ibu saya. Sepupu saya lebih dari 50 % adalah pegawai negeri sipil dan sisanya pegawai swasta. Ditambah obu saya dan saudaranya adalah PNS seluruhnya. Jadi untuk menjalani hidup sebagai pengusaha adalah sesuatu yang janggal.
Selepas kuliah saya memutuskan untuk meniti karir sebagai pengusaha, saya tidak mendapat dukungan dari keluarga besar ibu saya, termasuk ibu saya sendiri.

Ketika saya memulai usaha susu kedelai saya, ibu saya sampai menangis. Anak yang di sekolahkannya susah payah, hanya memilih untuk jualan susu kedelai. Bukan profesi yang membanggakan. Harapannya paling tidak jadilah karyawan...

Sembari menjalani usaha susu kedelai saya membuka buku catatan lama saya. Catatan berisi 20 usaha modal 5 juta rupiah. Saya menemukan bisnis jamur tiram.

Saya pelajari.

Kali ini saya dapat suntikan dana 5 juta rupiah dari bibi saya. Uang 5 juta inis aya belanjakan untuk pembuatan kumbung jamur dan pembelian baglog jamur tiram.

Ini kesalahan dalam memulai usaha.

Usahanya berjalan, cuma lambat sekali. Jamur tiram saya berjumlah 500 baglog sehari panen rata rata 2 kg, harga jual 12000 rupiah per kg. Waktu itu tidak seperti sekarang, jamur tiram bukanlah produk yang populer. Saya setiap hari sms ke 40 kontak dalam hape jadul saya.

Agaknya pembeli saya dulu kasihan ke saya, lalu mereka beli jamur saya.
Pelan - pelan usaha ini terus berkemban, dari kumbung kapasitas 500 baglog menjadi kapasitas 5000 baglog. Karyawan 4 orang. Tapi, kesalahan berikutnya terjadi. Walau sudah punya omzet mencapai 1,2 juta perhari. Usaha ini saya tutup akhirnya.

Hal yang ingin saya sampaikan disini adalah pertama, memulai usaha pastikan ada pasarnya, karena jika tidak effort nya lebih besar. Terutama untuk edukasi pasar. Kedua, kuasai ilmu keuangan. Gagal kelola keuangan akan buat usaha kuta cuma berumur jagung. Ketiga, Fokus, jangan mendua apa lagi meniga.

Demikian artikel sederhana bisnis modal 5 juta tentang usaha jamur tiram saya yang sukses saya tutup akhirnya. Dalam artikel selanjutnya saya mungkin masih bicara bisnis modal 5 juta rupiah, kali ini kasusnya cetak digital milik saya yang juga sukses ditutup kemarin...hehe. stay tune.

Selasa, 10 November 2015

Bisnis Modal 5 juta Rupiah

Ketika awal - awal lulus kuliah saya menyusun sebuah daftar, beberapa bisnis  dengan modal 5 juta rupiah. Dalam daftar itu saya menulis ada paling tidak 20 jenis usaha yang bisa saya kerjakan karena modalnya berkisar 5 juta rupiah saja.

Bisnis modal 5 juta rupiah

Menjelang wisuda, waktu itu ada jeda antara tanggal kelulusan dengan wisuda hingga 2 bulan lamanya. Saya diminta PEMA USU yang bekerjasama dengan KADIN Pusat menyelenggarakan seminar wirausaha, untuk jadi moderatornya. Pembicara kala itu dari malang dan medan. Keduanya pengusaha,satu bisnis jamur tiram, kedua bisnis bahan - bahan burger.

Pengusaha dari malang itulah yang menginspirasi saya untuk menjalani bisnis. Walau niat sudah ada, tapi dalam seminar inilah saya akhirnya memutuskan untuk berbisnis.

Kembali ke bahasan, bisnis modal 5 juta rupiah. Akhirnya saya memulai bisnis saya sendiri, yang pertama adalah usaha susu keledelai. Saya beli kedelai lalu saya olah menjadi susu kedelai. Modalnya kala itu tidak sampai 2 juta.

Saya beli blender, kain saringan tahu, beberapa baskom dan sendok pengaduk. Untuk kompor saya pinjam punya ibu saya. Selebihnya untuk modal kerja.

Saya bangun jam 3 pagi, merebus air, blender kedelai, menyaring lalu memasak susunya hingga saya kemasi satu satu. Selepas sholat subuh saya berangkat ke pasar menjajakan produk saya.

Bisa dikatakan usaha ini gagal awalnya. Saya cari apa masalahnya, ternyata saya salah membidik pasar.

Setelah saya ganti target pasar, alhamdulillah usaha ini mulai menuai hasil, paling tidak sekitar 100 bungkus susu kedelai perhari berhasil saya pasarkan. Kepada siapa saya memasarkannya? Saya bidik pasar siswa SD (produk : susu kedelai beku) dan SMA (produk : susu kedelai hangat dan dingin)

Ini usaha pertama saya dan akhirnya saya tinggalkan karena saya mau fokus ke bisnis jamur tiram.

Sementara ini dulu artikel pembuka diskusi bisnis modal 5 juta rupiah. Pada kesempatan selanjutnya saya akan ceritakan kegagalan bisnis saya berikutnya, kok kegagalan? Biar kita bisa belajar bersama.

Kalau mau baca baca 11 kesalahan yang saya lakukan dulu, silahkan donlot ebook gak pentingnya di rata.in/11kesalahan
Sampai jumpa di artikel selanjutnya

Senin, 09 November 2015

Kunci Sukses Bisnis : Kuasai Bahasanya

Sering kita mendengar, kunci kesuksesan dalam hubungan adalah komunikasi. Kunci dari komunikasi adalah kesamaan bahasa atau kesamaan frekuensi. Begitu juga dengan bisnis, kunci kesuksesan dalam berbisnis adalah kemampuan kita berkomunikasi dengan bisnis kita.

Bagaimana cara berkomunikasi dengan bisnis kita?

Seperti kita tahu bahwa setiap hal di dunia ini memiliki bahasa untuk mengomunikasikan dirinya ke lingkungannya. Manusia menggunakan "bahasa" yang disampaikan melalui lisan dan tulisan. Hewanpun juga punya bahasa sendiri.

Bisnis? Bisnis punya bahasa sendiri untuk menyampaikan kondisi dirinya ke kita sang pemilik bisnis. Sayangnya, banyak orang yang mengatakan dirinya pengusaha, pebisnis, tapi mereka tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengan bisnisnya. Akibatnya apa? Sangat fatal... kebanyakan kegagalan dalam bisnis dimulai dari kegagalan kita berkomunikasi dengan bisnis kita.

Indikator.

Dalam mengendarai kendaraan seperti mobil, kita berkomunikasi dengan si mobil dengan membaca indikator yang ada di dashboard. Ada speedometer, fuel level dan lain - lain. Dengan indikator ini kita jadi tahu tentang kondisi si mobil. Minimal tahu kondisi bahan bakar.

Lalu bagaimana dengan bisnis?

Bisnis punya bahasa sendiri untuk menyampaikan kondisi dirinya, apakah sedang demam atau sehat - sehat saja. Bahasa bisnis kebanyakan akan berbicara dari bahasa keuangan. Bisnis akan menceritakan kondisi dirinya melalui indikator - indikator keuangan.

Nah, pertanyaannya, sejauhmana kita memahami indikator - indikator ini, lalu keputusan bisnis apa yang harus kita ambil setelahnya.

Insyaallah beberapa indikator keuangan yang menjadi sebagian dari bahasa bisnis akan saya sampaikan pada tulisan berikutnya.

Ini sebagai pengantar, sebelum kita diskusi lebih jauh tentang bahasa bisnis, hal ini mutlak kita ketahui agar komunikasi kita dengan bisnis kita menjadi lancar. Sehingga tingkat perceraian dengan bisnis semakin menurun

#cakapbisnis
https://telegram.me/cakapbisnis

Selasa, 03 November 2015

Cara Mendapatkan Tambahan Modal Usaha (Studi Kasus)

tambahan modal usaha


Dalam note kali ini saya akan menceritakan bagaimana saya mendapatkan modal tambahan untuk usaha yang sedang saya rintis. Usaha yang sedang saya rintis adalah distributor MADU dibawah bendera refillmadu.com. Sebelum memfokuskan diri menjual madu, saya sudah mencoba berbagai jenis usaha, dan kesemuanya sukses ditutup. Kegagalan tidak menyurutkan niat saya untuk meneruskan perjuangan membangun sebuah bisnis yang berkelanjutan.

Refillmadu.com adalah nama usaha yang saat ini menjadi nama/ domain situs toko online madu saya. Usaha ini saya mulai kurang lebih juni 2014, artinya sudah 1 tahun lebih. Berbeda dengan usaha yang sebelumnya, untuk usaha madu ini saya ingin mengujicobakan teori, baik dari sisi marketing, keuangan dan manajemennya.

Saat pertama sekali mulai usaha ini, saya mengeluarkan modal sebesar 100 ribu rupiah. Uang ini saya belikan 2 botol madu, lalu saya jual, hasil penjualannya saya belikan lagi madu begitu seterusnya. Saya sengaja tidak mengambil lebih dari sekedar uang pulsa dan bensin, ingin tahu sejauh mana usaha ini akan berkembang.

Setahun berjalan dengan kemampuan menjual yang menyedihkan, jujur saya ini pemalu, sering merasa segan kalau mau menawarkan produk ke orang lain. Untungnya saya diajari menjual tanpa harus menjual, ini saya pakai dalam aktivitas jualan saya sehari hari. Dalam 1 tahun menjalani usaha ini omzetnya Cuma 2 juta rupiah. Hehe, bukan angka yang mengesankan. Dalam hitungan saya, keuntungannya sebesar 30% dari omzet. Artinya sekitar 600 ribu rupiah.

600 ribu rupiah inilah jadi dasar saya untuk menghitung, berapa banyak modal usaha yang bisa saya tambah ke usaha refillmadu.com ini. Karena rencananya saya ingin mengembangkan web refillmadu.com yang didalamnya tidak hanya info produk tapi juga ada sistem afiliasi sehingga dapat memudahkan kawan  - kawan yang tidak punya modal tapi ingin berjualan.

Berdasarkan pengalaman selama ini, pengalaman investasi ke beberapa bisnis milik kawan saya. Saya menemukan bahwa rata – rata, bagi hasil yang saya terima berkisar diangka 2% perbulan dari nilai investasi, kalau saya invest 1 juta, maka bagi hasil yang saya dapatkan sekitar 20 ribu rupiah, bisa lebih bisa kurang, tergantung kinerja usaha.

Biasanya bagi hasil usaha adalah 60 : 40, pengelola : investor. Dengan keuntungan 600 ribu rupiah, maka bagian investor adalah 240 ribu rupiah 1 bulan. Kalau dibandingkan dengan pengalaman saya tadi bahwa sebulan rata  - rata uang investasi tumbuh 2 %, maka besar investasi jika keuntungannya 240 ribu adalah 12 juta rupiah atau 240ribu dibagi 2%.

Ini berarti, usaha saya bisa ditawarkan ke investor sebesar 12 juta rupiah. Mengapa tidak lebih tinggi? Boleh saja, tapi saya tidak ingin gegabah seperti usaha sebelumnya yang gagal hingga ratusan juta. Terpaksa harus memiliki hutang yang bisa dipakai untuk beli rumah dan mobil. Hehe

Saya buat proposal usaha, menceritakan potensi pasar dan rencana pengembangan usaha. Alhamdulillah saya mendapatkan hingga 16 juta rupiah. Artinya modal 100ribu dalam satu tahun meningkat menjadi 16 juta rupiah. Lumayan untuk pemula seperti saya.

Itu saja yang saya lakukan, dalam setahun menjalankan usaha, catat semua penerimaan dan pengeluaran. Lalu hitung berapa besar keuntungan usaha lalu bagi dengan 2% maka dapatlah nilai usaha kita. Angka ini dapat kita tawarkan ke investor.

Dengan tambahan modal ini, web refillmadu.com mulai dibangun, dilengkapi juga dengan sistem affiliasi, semoga dalam waktu dekat bisa di launching.

Bingung? Bagus, tujuan saya memang buat anda bingung, karena dalam bingung ada belajar. Silahkan hubungi saya untuk belajar lebih detail dalam menyusun review bisni dan menawarkan ke investor.


Demikianlah tulisan singkat bagaimana mendapatkan tambahan modal usaha, semoga membantu kawan kawan. 

Jumat, 23 Oktober 2015

Inspirasi Bisnis : Satu Kalimat yang mengubah Hidup saya

Seperti kebanyakan lulusan universitas negeri ternama dengan IPK mengesankan (cukup buat daftar kerja kemana saja) saya juga pernah galau. Mengikuti kata hati atau mengikuti langkah kebanyakan orang lain. Ada dua hal yang sangat ingin saya kerjakan selepas dari bangku kuliah, pertama menjadi dosen dan kedua bertualang di dunia bisnis. Perjalanan menjadi dosen kala itu agak sulit di kejar, maka pilihan kedualah yang paling mungkin.

Ibu saya awalnya menolak mentah  - mentah keinginan saya untuk berwirausaha. Beliau berharap saya mau meniti karir di perusahaan atau menjadi abdi negara. Alasan beliau sederhana, sayang ijazahnya sudah susah payah di sekolahkan, kini saatnya menuai hasil jerih payah selama ini. Ya, harapan beliau amat masuk akal dan hal yang wajar. Dengan IPK yang memuaskan, mudah saja bagi saya minimal lulus babak awal tes kerja. Tapi, saya kala itu menolak.

Periode itu adalah periode paling membuat saya bingung. Di satu sisi ingin mengikuti kata hati, sisi yang lain saya adalah seorang anak yang dituntut untuk berbakti kepada orang tuanya.

Saya membaca banyak buku, salah satu yang paling memberikan keyakinan untuk meniti karir sebagai wirausaha adalah sebuah buku yang ditulis oleh seorang executive microsoft, direktur pemasaran asia pasifik, yang di usia 35 tahun sudah mencapai semua yang diimpikan banyak orang.

Satu hal yang menarik dari cerita beliau adalah beliaupun mengalami kegalauan yang akut. Memutuskan berhenti bekerja saat karirnya sedang tinggi, demi mencapai sebuah tantangan baru yang ia sendiri belum tahu bagaimana ujungnya. Yaitu, membangun sebuah organisasi nirlaba yang bergerak membantu menyediakan fasilitas belajar (awal sekali adalah memberi bantuan buku  - buku layak pakai untuk anak anak di negeri ketiga). Dan waktu itu dimulai dari negara NEPAL.

Satu kalimat yang muncul dalam pertempuran batinya adalah “lihat, kamu seharusnya mengakui kepada dirimu sendiri bahwa microsoft akan kehilangan kamu selama satu atau dua bulan. Seseorang akan dengan cepat mengisi tempat kosong itu. itu berarti seakan akan KAMU TIDAK PERNAH BEKERJA DI SANA, tanyakan pada dirimu sendiri, apakah ada ribuan orang yang mengantre untuk membantu desa desa miskin membangun sekolah dan perpustakaan? Tak ada yang melakukan pekerjaan itu, kamu harus bangkit menghadapi tantangan ini.” (hal 50)

Tanpa saya sadari, saya seperti mendapatkan jawaban atas kegalaluan saya. Yap, saya harus memutuskan nasib saya sendiri, jika saya bekerja di perusahaan, lalu perusahaan untung besar apa yang saya dapatkan ? uang yang banyak, lalu setelah kau keluar dari sana, apa yang terjadi? Seseorang akan menggantikanmu dan seakan akan kita tidak pernah ada di sana. Sedangkan saat saya membangun karir saya di usaha saya sendiri? Kita tentu tau jawabannya.

Sejak saat itu, saya memantapkan diri untuk tidak lagi mencari pekerjaan. Lalu bagaimana dengan ibu saya? Komunikasi, itu satu satunya jalan. Berbulan saya mencoba meyakinkan ibu saya bahwa jalan yang saya tempuh adalah pilihan terbaik bagi saya. Dan akhirnya dengan berat hati pula beliau menerima, walau di awal tidak 100%, setelah lahir anak pertama saya (sekitar 3 tahun sejak awal komunikasi) beliau menerima sepenuhnya pilihan saya untuk fokus wirausaha.

Ohya, buku yang menggugah saya kala itu berjudul “leaving microsoft to change the world” ditulis oleh John Wood, dan lembaga nirlabanya bernama room to read, coba aja googling. Buku ini di tulis tahun 2006, dan saat ini lembaga yang ia pimpin tidak hanya membangun sekolah dan perpustakaan di NEPAL, tapi ke asia tenggara, hingga afrika.


leaving microsoft


Sekali lagi kawan, inilah buku yang memantapkan pilihan saya untuk fokus meniti jalan wirausaha. Walau belum sepenuhnya berhasil, tapi setidaknya jalan itu sudah mulai terlihat.


Salam, semoga bermanfaat, saya Bag Kinantan. 

Kamis, 01 Oktober 2015

Kelas Online : Gazebo Review Bisnis

Kelas Online - GazeboReviewBisnis. Sebelumnya saya sampaikan banyak terimakasih kepada teman – teman yang sangat antusias di status saya tentang #gazeboreviewbisnis. Sebelumnya saya akan sedikit memberikan gambaran tentang hal ini.


kelas online review bisnis



MODAL UANG adalah kendala utama bagi banyak calon pengusaha untuk memulai usahanya. Mereka terhenti saat dihadapkan dengan situasi permodalan. Walau sebenarnya ada banyak alternatif yang bisa dikerjakan untuk mengakali permasalahan ini. Contoh yang paling gampang adalah datang ke Bank atau lembaga keuangan lainnya. Namun, seiring pengetahuan masyarakat yang makin tercerahkan, mereka menghindari Bank atau lembaga keuangan karena MENGHINDARI RIBA, betul kan?

Seperti kita tahu bahwa Riba selain tidak berkah, juga membunuh banyak usaha, terutama yang baru dirintis.

Saya teringat ketika awal – awal memulai usaha dulu. Selepas kuliah di Medan, saya kembali ke kampung halaman lalu memulai usaha sendiri. Modal? Saya pinjam koperasi (berbunga) dan usahanya berhasil ditutup kemudian. Selanjutnya saya menanggung hutang.

Lalu, untuk usaha berikutnya saya pinjam dari keluarga. Hihi, dalam banyak tips pemodalan dikatakan selain dari lembaga keuangan kita bisa memulai dari keluarga terdekat. Pinjam uang mereka lalu janjika bagi hasil. Lagi lagi karena saya salah dalam memanajemennya, usaha ini gagal lagi.

Dan kemudian saya memberanikan diri menyusun proposal usaha yang akan saya tawarkan ke teman – teman saya. Saya ajak aja mereka investasi di usaha yang saya rintis. Berbekal ilmu studi kelayakan, sedikit ekonomi teknik, analisa biaya dan marketing di kampus, saya susun sebuah proposal usaha. Berhasil juga, karena syukurnya teman – teman saya percaya ke saya.

Saat pindah ke Medan lagi, model ini saya pakai lagi untuk mengumpulkan modal. Perlu diketahui saya di awal menikah bangkrut, usaha saya tutup dan merugi. Saya susun lagi proposalnya, saya kirimkan ke beberapa orang, cair mulai dari 5 – 10 juta per orang. Bahkan ada pengusaha di medan yang memberikan tanah dan uangnya ke saya, tanah 1 Ha dan uang 85 juta rupiah.

Hingga usaha saya yang terakhir ini (www.refillmadu.com) saya tetap menggunakan uang investor. Jadi, selama ini bisa dikatakan saya memulai usaha selalu dengan modal dari orang lain.

Dan tidak ada alasan TIDAK ADA MODAL untuk memulai usaha kan? Yang kita butuhkan hanya IDE dan KEBERANIAN, serta sedikit pengetahuan dalam menyusun proposal bisnis atau review bisnis.

=======

Berangkat dari pengalaman itulah saya berpikir untuk menyebarkan pengetahuan ini ke kawan – kawan agar tidak ada lagi yang mengeluhkan masalah modal usaha. Memang setelah modal didapatkan kita punya PR besar, yaitu memastikan investasi tadi menguntungkan. Untuk itu, saya akan membantu anda mempelajari sedikit dasar – dasar manajemen usaha.

Kegiatan ini saya namai GazeboReviewBisnis, seperti namanya Gazebo, tempat kita duduk santai sambil diskusi.

Dan untuk kegiatan ini, TIDAK GRATIS kawan, saya hanya minta infaq se-pantas-nya dari kawan – kawan. Uang hasil infaq kawan – kawan akan saya salurkan ke lembaga pendidikan yang saya kelola. Sebuah PAUD/ TK MAHABBAH di jalan karya setia Medan Barat, Kota medan, saat ini kami mendidik sekitar 40 an siswa, lebih dari 50% nya dari kalangan keluarga tidak mampu.

Syaratnya hanya itu, jika kawan – kawan setuju dengan syarat INFAQ se PANTAS nya tadi, saya akan masukkan kawan – kawan ke grup belajar ini. Insyaallah akan saya buat di FB.


Silahkan kirimkan pesan ke Facebook saya
WA : 0823 6638 0788

BBM : 545545B5

Tips Jualan : Ciptakan KERUMUNAN

Dalam artikel Tips Jualan kali ini saya akan membagikan satu tips lagi, yaitu Ciptakan kerumunan, tujuannya apa? lanjut bacanya ya....

tips jualan : ciptakan kerumunan


Apa yang terjadi kalo tiap hari kita dibroadcast-in iklan jualan teman kontak kita di BBM?

Lalu, Bagaimana rasanya kalau tiap sebentar kita di TAG jualan teman di FB, agar kita lihat jualannya?

           (mungkin) sebagian besar jawaban kita adalah Muak dan ada yang muntah...

Saya juga gitu kok dulu, saya rajin tag orang lain agar mereka melihat saya punya jualan. Lalu, apakah ada yang beli? Ada juga, satu dua dan gak berulang.

Sampai akhirnya saya ditegur teman sekaligus guru saya.

Beliau bilang, “Kalo jualan di sosmed itu jangan seperti itu (main tag orang), ente gak akan dapat kepercayaan pasar.”

“terus bagaimana?”

“berhenti tag orang – orang, mulailah berusaha untuk di-kerumuni- banyak orang.”

“dikerumuni?”

“ente contek aja apa yang ane kerjain...”

Sejak saat itu saya pelajari yang beliau lakukan, bagaimana cara agar kita dikerumuni banyak orang.

========

Kawan – kawan, kalau mau makan di rumah makan, kira – kira pilih rumah makan yang rame pengunjung atau yang sepi? Apa yang terlintas dalam pikiran kita jika melihat rumah makan yang selalu rame pengunjung?

Yup, bener, kita berpikir ini rumah makan pasti masakannya enak, buktinya banyak orang yang makan.

Begitu juga dengan aktivitas kita di sosmed, jika kita ingin menjadikan akun sosmed kita sebagai akun jualan maka, pastikan akun tersebut dikerumuni orang. Pertama untuk menarik perhatian orang yang lalu lalang, kedua membangun “kepercayaan” orang yang lalu lalang tadi untuk “mencoba” produk yang kita jajakan.

Lalu bagaimana agar akun kita di kerumuni banyak orang?

Saya hanya punya satu kata kunci untuk ini, MANFAAT. Apa manfaat yang bisa kita berikan untuk orang lain, terutama untuk friendlist kita. Jika tidak ada manfaat yang bisa kita berikan, jangan berharap mereka akan melirik akun kita, konon lagi akan membeli dari kita.

Itulah mengapa para suhu yang telah berhasil mengatakan, sering sering sharing tentang hal – hal yang bermanfaat lalu selipkan sesekali jualan kita. Lakukan dengan soft sampai orang tersebut gak sadar bahwa kita sedang jualan. Dalam bahasa teman saya yang lain disebut covert selling.

Ingat sebuah prinsip bahwa kita itu gak suka diiklani atau dijuali. Kemarin saat saya dan istri ke pasar sentral medan, semua penjual mengajak kami mampir ke tokonya, dengan kalimat, “cari apa bang?” “belanja kak?” dan kalimat sejenis, apa kami peduli dengan jualan mereka? sayangnya tidak. Saya katakan ke istri, kalau mereka mengubah sedikit kalimatnya, orang bakal berhenti dan minimal melihat jualannya. Sayangnya mereka salah.

Kembali ke awal, jadi  jika ingin mendapatkan kepercayaan saat berjualan di sosial media, maka pertama yang harus kita lakukan adalah menciptakan kerumunan orang, agar apa? pertama mendapatkan perhatian dan kedua muncul kepercayaan publik atas apa yang kita lakukan, syukur – syukur kalau mereka melihat jualan kita. Dan jika kita ingin menciptakan “kolam” untuk ikan ikan yang kita targetkan, akan lebih mudah.

Ok ini dulu ya...semoga berMANFAAT.

============


Ohya sudah tahu belum, kalo note ini adalah cara saya menciptakan kerumunan...lumayan berhasilkan?

sekian, saya Bag Kinantan
============