Kamis, 11 Agustus 2016

Perang Harga, Siapa yang Menang?

Dalam upaya memenangkan konsumen, ada banyak sekali taktik yang bisa di kembangkan oleh bisnis. Harga adalah salah satunya, namun sayangnya saat ini harga sepertinya menjadi satu satunya senjata yang digunakan banyak pengusaha. Dan pada akhirnya yang terjadi adalah perang harga.

Dalam tulisannya Rico Huang soal price war, beliau banyak bercerita soal ini dan intinya sih, tidak ada ada yang menang di perang harga. Kita rugi, rezeki kompetitor juga di ganggu, produk menjadi hina dan konsumen tidak mendapatkan value yang bagus. Bahkan konsumen bisa tidak dapat produk sama sekali kalau kita dan kompetitor bangkrut akibat perang harga (fikry fatullah).

Di era digital saat ini, yang memenangkan persaingan bukanlah mereka yang menjual paling murah, tapi mereka yang punya pelayanan bagus (service) dan logistik juaralah yang akan memenangkan persaingan. Walau ironisnya sampai hari ini masih ada juga yang berpikir bahwa untuk menang persaingan harus dengan banting - bantingan harga.

Guru kami menuliskan bahwa untuk memerangi perang harga ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, antara lain:

Pertama : Value kita harus bagus

Hal ini adalah dasar dalam bisnis, sejatinya bisnis adalah pertukaran value dan produk adalah salah satu dari bagian value itu.

Value sebenarnya adalah benefit yang kita tukarkan dengan sejumlah biaya yang disebut harga. Kebanyakan orang takut menaikkan harga karena takut pasarnya lari. Nah, jika konsumen sudah menetapkan value suatu produk, artinya ia sudah mendapatkan benefit atas harga yang ia keluarkan. Jadi agar value di benak konsumen tidak berubah, setelah kita naikkan harga, maka tingkatkan juga benefit yang mereka rasakan.

Jika secara matematis di gambarkan VALUE = BENEFIT/ Biaya (harga)

Kedua : agar Value bagus, Proses bisnis dan SDM harus Solid dan Mulus

Terkadang konsumen membeli bukan karena produknya saja, tapi ada hal lain yang membuat mereka “nyaman” bertransaksi dengan kita. Dan kenyamanan itu bisa didapatkan dalam proses bisnisnya atau dengan SDM kita.

Dan menurut Hiten shah, hal yang paling menantang dalam bisnis adalah prosesnya dan SDM.

Ketiga : Persepsi Bagus Menurut Pasar/ Calon Pembeli

Bagus menurut siapa? Benar menurut siapa? Ini yang biasa disebut persepsi. Kita sering menduga duga apa yang ada di dalam benak konsumen, saya juga sering mendapatkan melihatlah dari kacamata konsumen, bukan kacamata kita sebagai produsen. Kadang, konsumen bahkan tidak tahu apa yang mereka butuhkan. Tugas kitalah yang menggali kebutuhan dan memberikan solusi atas jawaban mereka.

Keempat : Trafik dan Aset

Kuasai bagaimana mendatangkan trafik dan membangun aset online. Para guru kami sering mengatakan bahwa makanan bisnis itu adalah trafik. Makin banyak trafik makin baik, tinggal bagaimana kita berkomunikasi dan mengubah trafik menjadi penjualan.  Lalu jangan lupa untuk mulai membangun aset online kita. Di dunia yang makin digital, kebutuhan online makin tinggi, jika kita tidak juga membangun aset online, kita bakal terus tergerus dan ketinggalan.

Kelima : Produk yang Unik

Kalau kita memiliki produk yang unik dan belum ada yang jual, pasar masih gelap soal harga, kita bisa tentukan harga sesuka kita. Dan peluang untuk mendapatkan laba dan memberikan value yang baik terhadap produk menjadi lebih tinggi.

Dalam kelas manajemen uang bisnis sering saya sampaikan bahwa bisnis tujuannya adalah mendapatkan cash, jika kita gagal mendapatkan cash, kita tak ubahnya lembaga sosial bukan organisasi bisnis. Fokus ke sana seharusnya.
Dan untuk mendapatkan cash yang relatif banyak, maka laba harus tinggi. Laba di dapat dari pengurangan antara penjualan dan biaya biaya. Jika kita jual murah, sementara biaya tinggi, apakah kita bisa dapat laba yang layak?
Dengan dapat laba yang layak, kita  bisa mengembangkan bisnis menjadi lebih bagus lagi, meningkatkan produksi, meningkatkan layanan dan lain  lain.
Intinya hindari perang harga, gak ada untungnya. Jangan terjebak paradigma jual murah = laris. Banyak yang terjebak dengan paradigma ini, mereka bangga dengan mutasi rekening yang tinggi, tapi sejatinya mereka tidak mendapatkan apa – apa, hanya kelelahan dalam menjalankan bisnis.



*)Tulisan ini terinspirasi oleh guru kami fikri fatullah

Mengulang Kajian : Aset Liabilitas dan Cut Cost

Bagian 1 : Aset dan Liabilitas

Bagi yang sudah baca ebook 19rahasia keuangan bisnis, pastinya sudah menemukan penjelasan soal aset dan liabilitas. Inilah yang jadi rahasia para orang yang hidup makmur dan jadi penyebab orang jatuh dalam jurang kemiskinan.

Secara sederhana, aset adalah sesuatu yang akan menyebabkan uang cash kita meningkat. Ia akan menghadirkan uang cash lagi dan lagi...seperti beternak uang.

Contoh yang paling mudah adalah kita beli rumah, kemudian dijadikan kos kosan, tiap bulan kita mendapatkan uang sewa dari kos. Apakah cukup ini saja? Ternyata tidak, ada catatan lain, pendapatan kita harus lebih besar daripada biaya yang keluar. Misal kos tadi, maka biaya perawatan rumah kos harus lebih kecil dari pendapatan yang kita dapatkan.

Lalu liabilitas? Jelas kebalikannya. Liabilitas adalah kewajiban alias beban. Ia menyebabkan uang cash kita keluar, misalnya yang paling gampang kita beli gadget untuk gaya gayaan...hasilnya apa? Biaya pulsa jadi lebih tinggi dari biasa, dan sedihnya, saat gadget coba untuk dijual kembali, ia tidak memberikan nilai yang lebih tinggi dari saat ia dibeli...

ada yang punya pengalaman menjual gadget bekas dengan harga lebih tinggi dari harga beli? Kalo ada ajaib.

Tugas pertama kita agar selamat di area keuangan adalah

KENALI ASET dan LIABILITAS yang kita miliki...

Pahamkan?


Bagian 2 : CUT COST

Tujuan utama mendirikan bisnis adalah untuk mencetak cash!

Sehebat apapun kemampuan menjual kita, jika kita tidak mampu mengendalikan yang namanya biaya alias cost, maka penjualan yang besar tidak akan memberi arti apa apa.

Di dalam ebook 19 rahasia keuangan sudah saya jelaskan pendapat teman saya soal bagaimana memperkuat cash.
  • Meningkatkan penjualan
  • Menekan biaya (produksi dan operasional)
  • Mengurangi piutang
  • Mengendalikan stok barang


Nah, dari keempat cara ini, 3 hal terakhir memiliki benang merah yang sama yaitu “menekan/ mengurangi cost”

Sehebat apapun penjualan kita, jika kita gagal mengendalikan biaya dalam bisnis kita, penjualan yang besar itu menjadi tidak ada gunanya.

Dalam kebanyakan kasus yang saya temui, kasus meningkatnya biaya dalam bisnis kita bermula dari ketidakmampuan kita dalam mengendalikan biaya yang muncul. Biaya memang sesuatu yang pasti, namun kita punya hak untuk mengendalikannya.
Contoh kasus yang sering saya temui adalah :

Pertama, Membeli barang (stok) yang tidak diperkirakan sebelumnya. Khilaf karena sedang diskon besar atau membeli banyak diskon lebih gede dan seterusnya. Memang stok ini pada akhirnya akan di gunakan, namun ia akan menggerus cash dalam jumlah besar di waktu singkat. Jika bisa di imbangi dengan masuknya cash ke bisnis (stok langsung habis) ya ga pa pa, masalahnya kalau stoknya butuh waktu yang lama untuk di konversi jadi uang (terjual)

Kedua, memberi PIUTANG alias ngutangi konsumen, karena takut barang gak laku atau ada pikira lebih baik barang keluar dari pada Cuma numpuk di stok. Nah, ini juga kesalahan. Masih ingat prinsip dasar keuangan bisnis? Sebisa mungkin menghindari hutang dan piutang. Bukannya apa, ini akan mengganggu uang cash bisnis kita. Piutang membuat stok kita keluar tapi gak jadi uang...nantikan di bayar bang? Iya, apakah kurang dari 1 bulan? Kalo ngaret gimana? Belanja kita selanjutnya bagaimana? Kita sedang jadi pebisnis atau lembaga sosial?

Ketiga, membeli barang yang gak mengenerate cash alias Cuma jadi liabilitas aja. Alias Cuma bikin uang cash keluar dari kantong kita...misal beli mobil baru yang lebih canggih, untuk penampilan...masa pengusaha Cuma pake xenia atau luxio? Ganti dong CR V... ganti hape baru yang lebih pada fashion bukan untk digunakan sebagai “CS”

Nah, tingkatan kedua dari tangga bisnis yang saya pahami adalah “meningkatkan profit” cara Cuma dua, jual lebih banyak dan kurangi biaya.

Sudah listing apa saja biaya biaya dalam bisnis anda?


Sudah ada 2 Pekerjaan Rumah yang harus di lakukan ya...?