Selasa, 22 Desember 2015

Tips Manajemen Keuangan Usaha Sederhana

Dengan omzet 100 jutaan per hari tentunya bagi kita pemula menganggap itu sebagai bisnis yang luar biasa, tapi abang saya melihatnya dari sisi yang lain. Beliau merinti bisnis ayam potong sekitar 17 tahun yang lalu. Ia memulai dengan dua kandang, siang istrinya yang menjaga, malam beliau yang jaga. Waktu itu belum ada pagar keliling seperti sekarang. Bisnisnya tumbuh hingga mencapai penjualan 5000  - 10.000 ekor perhari. Bayangkan jika harga ayam perekor 20.000, maka omzet perhari mencapai 100  - 200 juta rupiah. Bisa dibilang beliau adalah penguasa pasar ayam potong di daerah kami. 

Namun, tahukah kawan  -  kawan, bisnis itu bangkrut.

Ya, abang saya katakan bahwa bisnis ayam potongnya bangkrut. Tapi jangan bayangkan ketika bangkrut semua asetnya hilang, tidak. Asetnya tetap ada dan dimanfaatkan untuk bisnis ayam juga, tapi bukan pedaging, petelur.

Kenapa beliau katakan bangkrut? Pertanyaan ini menjadi menarik.

Kemarin saat saya pulang kampung dan menyempatkan diri datang ke kandang, kami banyak bicara soal bisnis. Beliau bicara pengalaman selama ini dan saya bicara dari sisi bisnis online yang saya tekuni setahun belakangan ini.

walau beliau mencetak penjualan yang lumayan besar, namun ternyata semua itu hanya hitung  - hitung di atas kertas. Tidak dalam kehidupan yang nyata. Karena apa?

Sebelum saya jelaskan, satuhal yang saya catat dari perjalan bisnis saya yang masih seumur jagung. Bahwa memang penjualan menjadi tulang punggung bisnis, tanpanya bisnis tidak dapat tegak. Namun untuk membuat bisnis bisa tegak dan berjalan, kita butuh Uang Cash. Dialah darah, dialah jantung.

Dan kebanyakan pengusaha pemula seperti saya, mudah silau dengan besarnya angka penjualan alias omzet. Pikiran kita langsu mencoba menghitung berapa LABA yang dihasilkan, secara kasar jika penjualan sekian rupiah dan modal sekian rupiah maka kita mencatatkan laba sekian rupiah. Namun, kebanyakan pemula seperti saya ini lupa satu kaidah dalam manajemen keuangan. Laba adalah sesuatu yang SEMU, sedangkan yang nyata adalah ARUS KAS.

Lalu, apa kaitan ini dengan cerita bisnis abang saya yang bangkrut?

Abang saya mengatakan bahwa di bisnis ayam potong, ia menggunakan sistem bayar mundur, alias para agen atau langganan besarnya boleh HUTANG, dan dibayar ketika si agen mendapatkan uang dari penjualannya. Dan itu kesalahan dalam manajemen keuangan usaha yang saya catat. Memberi HUTANG. Mengapa jadi salah? Sudah jadi tabiat kebanyakan orang, mudah berhutang, sulit membayar. Abang saya kesulitan mencairkan piutang  - piutangnya yang nyangkut di agen  - agennya. Ada saja alasan untuk menunda pembayaran. Si agen lupa bahwa abang saya juga butuh dana segar untuk menjalankan bisnisnya.

Hutang macet, ibarat stroke pada tubuh manusia, ada aliran darah yang tersumbat.
Walau secara catatan omzet tinggi, laba muncul, tapi saat dihitung uang cash sesungguhnya, uangnya tidak ada. Di saat yang sama, beliau harus membayar tagihan  - tagihan yang muncul, beliau kesulitan.

Saya teringat teman saya, seorang manajer di tupperware, omzet sekitar 300 jutaan sebulan. Ia menjalankan sistem yang berbeda dengan kebanyakan agen tupperware lainnya. Ia memegang prinsip harus cash no credit. Walau pasar tupperware adalah ibu  - ibu dan ibu  - ibu adalah pecinta sejati sistem kredit, ia tetap tidak mau menggunakan sistem itu. dan hasilnya, bisnisnya tumbuh terus kok.

Lalu, saat saya memulai karir bisnis saya, yang saya lakukan adalah menjual komputer. Kebetulan sekali ada saudara mau beli komputer, saya sedikit banyak tahu tentang komputer. Akhirnya saya sanggupi untuk mencarikan beliau komputer sesuai dengan spesifikasi yang diminta. Saya berangkat ke kota, lalu membeli sebuah komputer dengan cash. Lalu saya jual dengan sistem kredit, tentunya dengan menambahkan sejumlah keuntungan yang menurut saya cukup adil. Membeli cash, menjual kredit. Betapa bodohnya saya saat itu. dan hasilnya bisa ditebakkan? Gulung tikar.

Lalu bagaimana dengan bisnis ayam petelur abang saya tadi? Setelah ia menyadari bahwa bisnis ayam potongnya sedang mengalami penurunan, ia mulai langkah baru, yaitu mulai mengganti kandang ayamnya menjadi kandang ayam petelur. Pelan pelan beliau masukkan bibit ayam petelur. Ia ubah haluan pelan  - pelan. Dan tahukah kawan, untuk ayam petelur ini, beliau tidak menerima hutangan. Mesti dibayar cash dimuka. Ada uang ada barang. Walau pelanggannya tidak sebanyak ayam petelur karena kebiasaan hutang tadi. Abang saya lebih nyaman menjalani bisnis ini. Tidak lagi dipusingkan dengan masalah tagih menagih hutang. Dan hari ini omzet hariannya sudah mendekati angka 100 juta lagi.

Dan yang ingin saya tegaskan disini adalah dalam mengelola keuangan usaha, apalagi dengan modal yang terbatas. Hindari Hutang piutang. Walau hutang itu sejatinya dibolehkan, sebelum kita terlena dan akhirnya terjebak dalam jerat hutang yang semakin besar. Baiknya hindari.

Saya teringat seorang teman, pengusaha konter hape, dari supliernya sudah berikan lampu hijau untuk bawa dulu barang, bayar secara cicil setiap minggu atau perbulan. Teman saya ini tetap keukeh tidak mau pakai sistem itu. karena apa? Ia menghindari hutang piutang. Biar kemampuan ia membeli barang untuk stok sedikit, daripada pusing mikirin hutang. Dan bisnisnya berkembang kok, ada 5 cabangnya.

Dan terakhir sebelum lupa, mas jaya setiabudi dalam statusnya beberapa minggu yang lalu mengatakan bahwa beliau mengakui kesalahannya, ketika mengajarkan bahwa gunakan sistem bayar mundur untuk mengakali ketiadaan modal usaha. Sekarang beliau menganjurkan lebih baik bayar cash, agar lebih adil untuk kedua belah pihak. Agar tidak ada pihak yang dizolimi.

Dan sekarang, prinsip ini saya bawa dalam bisnis jual beli MADU yang saya kerjakan sekarang. Keuangan kita stabil, laba terlihat dan arus kas lancar. Pernah reseller saya minta keringan dengan membayar madu yang dibeli dari saya selama 3 bulan. Memang jumlahnya besar. Target penjualan 1 bulan. Tapi, saya katakan tidak bisa, karena saya  beli madu ini ke suplier dengan uang cash. Secara logikakan gak ketemukan, uang cash dibayar dengan uang kredit.

Mudah  - mudahan kita semua dimudahkan untuk menjalankan bisnis, arus kas lancar dan bisnisnya selalu tumbuh. Bisnis yang sehat bukan hanya penjualannya tinggi, tapi aruskasnya lancar. Jadi, ingat tips dalam memanajemen keuangan bisnis, sederhana saja : hindari hutang dan piutang. Semoga bermanfaat

Saya , Bag Kinantan.


Silahkan share jika anda merasa ada manfaatnya. 

2 komentar:

  1. Nanya mas..
    menurut sampeyan,

    kalau sampeyan ada orderan madu misalnya. PO sdh keluar, lalu blm ada modal. dan dari supplier madu pun memberikan sinyal hijau untuk bayar mundur.
    Kalau yang sudah 90% pasti seperti itu, baiknya diambil tidak?

    BalasHapus
  2. ambil aja mas, cuma pastikan ada DP sih sebaiknya, untuk jaga jaga, agar aman sama aman...hehe

    BalasHapus

Terimakasih Sudah Membaca Blog Kami, berkomentarlah yang santun.