Minggu, 29 November 2015

Belajar (lagi) Cara Menyusun Segmentasi Pasar

Saat membaca - baca ulang tentang re –profilingnya mas Jaya Setiabudi saya jadi berpikir, sepertinya ada yang salah dengan segmentasi dan target pasar yang saya susun dalam bisnis model refillmadu.com dan ini menuntut untuk segera diperbaiki. Seperti yang pernah saya tulis di status FB beberapa hari yang lalu, bahwa ada beberapa produk yang memiliki segmentasi dan target pasar tersendiri namun dalam prakteknya kami masih mengeneralisir ke beberapa kriteria profil target pasar saja.



Nah, kebetulan sekali saya lagi baca ulang buku “mahalnya” pak Laksita, ada sedikit bahasan tentang segmentasi pasar. Di dalam buku ini, pak laksita menjelaskan bahwa pada dasarnya segmentasi pasar itu terbagi menjadi 3 kelompok besar, pertama segmen bawah, menengah dan atas. Masing masing segmen memiliki keunggulan dan kelemahan masing  - masing.

Untuk segmen kelas bawah, inilah segmen dengan jumlah populasi paling besar. Kriteria mereka saat membeli produk berpusat pada kuantitas dan harga. Jika produk yang kita jual memenuhi ekspektasi mereka akan dua hal ini maka penjualan akan terjadi. Contoh yang paling gampang adalah warteg atau rumah makan padang serba 8000. Jumlah banyak, harga murah, dan mereka tidak terlalu peduli dengan rasa/ kualitas masakannya.

Menjual di segmen ini kelebihannya adalah jumlah populasinya sangat tinggi, sekali membeli banyakpun mungkin saja terjadi, namun kelemahannya kita akan sedikit repot melayaninya dan satulagi profit yang dihasilkan terbilang rendah. Tingkat persaingan juga sangat tinggi, perang harga tidak dapat dihindarkan.

Segmen kedua dalah segmen menengah. Pada kelas ini pasar mulai cerdas, mereka sensitif dengan harga namun mulai kritis terhadap kualitas, saat kualitas dan harga sesuai dengan ekspektasi mereka, mereka akan membeli. Terkadang, produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan, namun karena kebutuhan akan gengsi, mereka membelinya. Biar dibilang kekinian. Mereka biasanya terlihat di mall, makan di restoran menengah dan dari segi jumlah mereka mulai berkurang, namun dengan strategi harga yang tepat, pasar ini tetap gurih untuk digarap.

Segmen terakhir adalah kelas atas, mereka sangat tidak mempermasalahkan harga, bagi mereka asal kualitas produk yang ditawarkan ke mereka memiliki kualitas premium dan dapat menunjang penampilan mereka, mereka akan beli. Cara berpikir segmen ini agak unik, bagi mereka harga yang mahal menunjukkan kelas sebuah produk. Walau kadang dari sisi bahan tidak berbeda dengan bahan kelas menengah. Namun, untuk kelas atas ini ada satu hal yang harus diperhatikan oleh setiap produsen/ pengusaha yaitu Kesempurnaan. Kelas ini tidak ingin terlihat ada kekurangan, mereka butuh produk yang sempurna di mata mereka.

Dengan penjelasan di atas, saya berharap kawan kawan mendapat satu inspirasi, sebenarnya produk yang kita jual ini berada pada segmen yang mana. Tugas kita selanjutnya adalah menyusun “profil” segmen yang kita bidik. Misalnya segmen menengah, kira  - kira kriteria pasar yang disebut segmen menengah itu seperti apa? Apakah mereka bekerja? Apa pekerjaannya?Dengan penjelasan di atas, saya berharap kawan kawan mendapat satu inspirasi, sebenarnya produk yang kita jual ini berada pada segmen yang mana. 

Tugas kita selanjutnya adalah menyusun “profil” segmen yang kita bidik. Misalnya segmen menengah, kira  - kira kriteria pasar yang disebut segmen menengah itu seperti apa? Apakah mereka bekerja? Apa pekerjaannya? Berapa penghasilannya? Tinggal dimana? Bagaimana aktivitas berbelanjanya, apakah sudah mulai beralih ke online atau belum? bagaimana lingkungan pergaulannya (komunitas yang diikuti)? Dan lain lain. Semakin detail semakin bagus.


Mungkin ini dulu sebagai pengantar, jika ada yang ingin didiskusikan monggo, seputar segmentasi dan target pasar. 


sumber gambar disini 

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Sudah Membaca Blog Kami, berkomentarlah yang santun.