Jumat, 23 Oktober 2015

Inspirasi Bisnis : Satu Kalimat yang mengubah Hidup saya

Seperti kebanyakan lulusan universitas negeri ternama dengan IPK mengesankan (cukup buat daftar kerja kemana saja) saya juga pernah galau. Mengikuti kata hati atau mengikuti langkah kebanyakan orang lain. Ada dua hal yang sangat ingin saya kerjakan selepas dari bangku kuliah, pertama menjadi dosen dan kedua bertualang di dunia bisnis. Perjalanan menjadi dosen kala itu agak sulit di kejar, maka pilihan kedualah yang paling mungkin.

Ibu saya awalnya menolak mentah  - mentah keinginan saya untuk berwirausaha. Beliau berharap saya mau meniti karir di perusahaan atau menjadi abdi negara. Alasan beliau sederhana, sayang ijazahnya sudah susah payah di sekolahkan, kini saatnya menuai hasil jerih payah selama ini. Ya, harapan beliau amat masuk akal dan hal yang wajar. Dengan IPK yang memuaskan, mudah saja bagi saya minimal lulus babak awal tes kerja. Tapi, saya kala itu menolak.

Periode itu adalah periode paling membuat saya bingung. Di satu sisi ingin mengikuti kata hati, sisi yang lain saya adalah seorang anak yang dituntut untuk berbakti kepada orang tuanya.

Saya membaca banyak buku, salah satu yang paling memberikan keyakinan untuk meniti karir sebagai wirausaha adalah sebuah buku yang ditulis oleh seorang executive microsoft, direktur pemasaran asia pasifik, yang di usia 35 tahun sudah mencapai semua yang diimpikan banyak orang.

Satu hal yang menarik dari cerita beliau adalah beliaupun mengalami kegalauan yang akut. Memutuskan berhenti bekerja saat karirnya sedang tinggi, demi mencapai sebuah tantangan baru yang ia sendiri belum tahu bagaimana ujungnya. Yaitu, membangun sebuah organisasi nirlaba yang bergerak membantu menyediakan fasilitas belajar (awal sekali adalah memberi bantuan buku  - buku layak pakai untuk anak anak di negeri ketiga). Dan waktu itu dimulai dari negara NEPAL.

Satu kalimat yang muncul dalam pertempuran batinya adalah “lihat, kamu seharusnya mengakui kepada dirimu sendiri bahwa microsoft akan kehilangan kamu selama satu atau dua bulan. Seseorang akan dengan cepat mengisi tempat kosong itu. itu berarti seakan akan KAMU TIDAK PERNAH BEKERJA DI SANA, tanyakan pada dirimu sendiri, apakah ada ribuan orang yang mengantre untuk membantu desa desa miskin membangun sekolah dan perpustakaan? Tak ada yang melakukan pekerjaan itu, kamu harus bangkit menghadapi tantangan ini.” (hal 50)

Tanpa saya sadari, saya seperti mendapatkan jawaban atas kegalaluan saya. Yap, saya harus memutuskan nasib saya sendiri, jika saya bekerja di perusahaan, lalu perusahaan untung besar apa yang saya dapatkan ? uang yang banyak, lalu setelah kau keluar dari sana, apa yang terjadi? Seseorang akan menggantikanmu dan seakan akan kita tidak pernah ada di sana. Sedangkan saat saya membangun karir saya di usaha saya sendiri? Kita tentu tau jawabannya.

Sejak saat itu, saya memantapkan diri untuk tidak lagi mencari pekerjaan. Lalu bagaimana dengan ibu saya? Komunikasi, itu satu satunya jalan. Berbulan saya mencoba meyakinkan ibu saya bahwa jalan yang saya tempuh adalah pilihan terbaik bagi saya. Dan akhirnya dengan berat hati pula beliau menerima, walau di awal tidak 100%, setelah lahir anak pertama saya (sekitar 3 tahun sejak awal komunikasi) beliau menerima sepenuhnya pilihan saya untuk fokus wirausaha.

Ohya, buku yang menggugah saya kala itu berjudul “leaving microsoft to change the world” ditulis oleh John Wood, dan lembaga nirlabanya bernama room to read, coba aja googling. Buku ini di tulis tahun 2006, dan saat ini lembaga yang ia pimpin tidak hanya membangun sekolah dan perpustakaan di NEPAL, tapi ke asia tenggara, hingga afrika.


leaving microsoft


Sekali lagi kawan, inilah buku yang memantapkan pilihan saya untuk fokus meniti jalan wirausaha. Walau belum sepenuhnya berhasil, tapi setidaknya jalan itu sudah mulai terlihat.


Salam, semoga bermanfaat, saya Bag Kinantan. 

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Sudah Membaca Blog Kami, berkomentarlah yang santun.