Kamis, 03 September 2015

Tukang Bakso dan Cashflow

Saya bingung, kok bisa muncul ide judul ini. Padahal isinya belum terpikirkan sama sekali. Dan ternyata antusiasme kawan – kawan memaksa saya memikirkan apa yang harus ditulis, semoga isinya tidak menyimpang dari judul Tukang Bakso dan Cashflow.

Secara tidak sengaja, beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah ebook gratis dari om diarseonubi, mungkin kawan – kawan sudah mengenal beliau dan mungkin juga sudah membaca ebook beliau.

Dalam ebook ini, beliau bicara tentang bisnis, bagaimana berbisnis. Ada banyak contoh yang beliau angkat dan salah satunya kisah tukang bakso. Saya coba kaitkan cerita tukang bakso dengan cashflow.
tukang bakso dan cashflow



Dengan sedikit perubahan disana sini, beginilah kisah si tukang bakso...


Ada seorang penjual bakso keliling. Menggunakan gerobak. Seperti penjual bakso pada umumnya. Ia keliling kampung sambil memukul mangkoknya, sangat khas, kita pasti langsung mengenalinya, jauh sebelum ia sampai di depan rumah kita.

Dalam sehari penjual bakso ini mampu menjual 300 pentol bakso. Sekitar 50 mangkok bakso. Ia terkenal karena baksonya yang enak dan pelayanan yang exelence. Bakso ia produksi sendiri di rumahnya, ia memproduksi 600 pentol, untuk jualan hari ini dan esoknya. Begitu seterusnya, sampai akhirnya ia mendapat permintaan untuk berjualan bakso pada sebuah acara, karena yakin bakal banyak yang membeli ia tambah porsi baksonya hanya untuk hari itu. ia produksi 800 pentol, 500 pentol ia jual, sisanya untuk jualan esok harinya.

Seperti dugaannya baksonya laris dan sebelum acara berakhir bakso sudah habis, sedangkan konsumen masih mengantri, menanti giliran mencicipi baksonya. Tapi, ia harus menutup dagangannya dan pulang. Istrinya mendesak untuk pulang mengambil stok bakso yang ada di rumah, tapi ia menolak. Bakso itu untuk dijual esok hari.

Apa pasal?

Si tukang bakso percaya bahwa setiap manusia sudah dijatah rejekinya. Dan jika jualannya ramai hari ini, sejatinya ia hanya memindahkan rejekinya di esok hari ke hari ini. Begitu yang diyakini si tukang bakso, benarkah? Hanya Tuhan yang tahu. Setahu saya sepanjang kita berusaha, Tuhan akan memberi sesuai jerih usaha kita.

Namun, ada pelajaran menarik dari kisah ini, tentang manajemen cashflow. Bagaimana mengatur perputaran uang usaha. Kadang sering kita menemukan sebuah usaha yang penjualannya bagus, tapi saldo usahanya kosong atau bahkan minus. Semua berawal dari kegagalan kita mengendalikan uang masuk dan keluar.

Sering kali kita terlalu percaya diri, saat hari ini order banyak, maka esok akan mendapatkan order sama seperti hari ini, sehingga kita habiskan banyak uang cash untuk menambah stok esok hari, dan pada keesokan harinya, penjualan malah sepi, uang sudah keluar, tertahan dalam gudang. Secara hitungan akuntansi tidak ada yang berkurang, karena uang cash berkurang tapi persediaan meningkat. Dan persediaan termasuk dalam aset, ia dapat menghasilkan uang cash ke dalam bisnis kita, hanya saja masih dalam bentuk barang, bukan uang.

Hanya saja, perlu sama – sama kita ingat bahwa uang cash adalah darah bagi bisnis, kita mungkin saja bisa bertahan tanpa penjualan, tapi bisnis kita tidak akan mampu bertahan tanpa uang cash. Untuk itu manajemen arus kas menjadi sangat penting.

Seperti tukang bakso di atas, ia kendalikan perputaran uangnya setiap 2 hari. Ia belanja (cash keluar) setiap dua hari, lalu berjualan (cash masuk) dalam 2 hari, jika ia memaksakan diri menghabiskan stoknya dalam satu hari, maka keesokan harinya ia harus belanja, bisa jadi itu merusak pola cash in – out yang selama ini ia bangun.

Setahu saya tidak ada aturan baku berapa % modal yang harus selalu ada dalam kas, kita hanya mempelajari polanya, bahwa perputaran uang kita sebanyak ini setiap bulan, maka setiap bulan kita harus sediakan uang cash sebanyak ini.

Dan dalam bisnis, aruskas positif lah yang harus kita kejar. Semakin positif, semakin baiklah bisnis itu. seperti kata para guru akuntansi bahwa laba adalah sesuatu yang semu, sedangkan aruskas adalah sesuatu yang nyata.

Kita boleh bangga dengan tingginya penjualan, tingginya margin laba, tapi pastikan juga bahwa aruskas masuk juga tinggi.


Itu dulu kali ya sedikit tentang Tukang Bakso dan Cashflow...mudah mudahan bisa dipahami dan gak mules.... #cakapbisnis

4 komentar:

  1. Belajar pola arus kas ini bang ceritanya... good sharing...

    BalasHapus
  2. Sebenarnya sedikit bingung bang.. berarti tk bakso masak bakso nya juga per 2 hari ya ?

    BalasHapus
  3. ya, itu sekedar contoh bagaimana ia mengendalikan cashflownya agar tetap sehat

    BalasHapus
  4. Pola stok dan kulak yg harus langgeng. Pantes kalo orang jualan dgn sediaan yg langgeng tiap hari malah habis nggak nyisa ya... beda sam yg nambah2in sediaan dagang malah sisa... kalo barang mentah masih amanlah
    .. kalo makanan... masa iya tega... kalo tega jual lagi berarti belom paham muamalah.

    BalasHapus

Terimakasih Sudah Membaca Blog Kami, berkomentarlah yang santun.