Kamis, 10 September 2015

Kenapa Saya Menjual Madu?

Petualangan saya akhirnya mempertemukan saya dengan MADU. Setelah mencoba banyak usaha. Saya sendiri bingung, apa penyebab saya akhirnya memutuskan menjual MADU. Sebelum bertemu MADU, saya sudah mencoba banyak usaha, mulai dari usaha jual komputer, menanam singkong, susu kedelai, digital printing, konveksi, budidaya jamur, produk olahan jamur, hingga akhirnya menjual MADU.

Semua usaha yang pernah saya jalani dahulu, mengajarkan saya banyak hal, namun yang paling utama adalah bahwa menentukan produk untuk kita jadikan bisnis memang membutuhkan riset yang tidak sebentar, seperti pernah saya katakan bahwa bisnis bukan sekedar rasa – rasa. Dalam memutuskan sesuatu tidak hanya mengandalkan intuisi, tapi tetap harus berdasarkan riset yang mendalam. 

Berbeda dengan usaha – usaha saya sebelumnya, saya memang melakukan riset, melakukan perhitungan studi kelayakan, namun dikarenakan lemahnya data yang saya punya, maka hasilnya juga menjadi lemah.

Untuk MADU saya sedikit mengubah cara. Pertama sekali kita harus menentukan dulu, model bisnis seperti apa yang akan kita gunakan, lalu dari sana pendekatan risetnya kita buat. Saya memutuskan akan mengembangkan bisnis online MADU, maka pendekatan risetnya jelas menggunakan data perkembangan bisnis MADU di dunia maya. 

Selain menggunakan data yang berlimpah di dunia maya, saya juga lakukan sampling langsung ke beberapa toko madu dan penjual madu baik yang online maupun offline. Saya berterima kasih sekali kepada bang Habibie (Fb : Habibie Selalu Tersenyum), karena beliau menjadi salah satu “ahli” yang memberi masukkan ke saya waktu itu.

Uji, Lalu Evaluasi

Saya berpikir untuk mulai lagi semua proses membangun bisnis dari nol. Tidak seperti usaha yang lain, saya akan memulai dengan modal yang sangat kecil, lalu saya akan lakukan beberapa metode marketing, lalu saya evaluasi. Di awal saya menghabiskan banyak waktu untuk kembali membaca hal hal penting dalam marketing dan penjualan.

Seperti pernah saya katakan dalam ebook gak penting, “11 kesalahan ... pemula” bahwa kita kebanyakan memikirkan produk lupa bahwa di awal kita harus fokus ke marketing. Dalam model bisnis kanvas juga dimulai dari marketing, siapa pasar kita. Kembali corat – coret tentang Segmentasi, Targetting, Positioning. 

Selanjutnya tinggal saya cari, dimana mereka yang bersesuaian dengan STP yang saya buat? Terlalu sering kita mendengar istilah segmented dan targetted. Saya yakin kawan – kawan pasti sudah paham maksud kata – kata itu.

Ini kesalahan kedua yang harus saya perbaiki, fokus membangun market seluas – luasnya. Perbanyak potensi pasar yang “melihat” produk kita. Lalu selanjutnya bagaimana kita membuat mereka “menyukai” dan kemudian “mencoba” produk kita. Paksa target pasar kita untuk “mencoba” produk kita, pastikan bahwa produk kita memang memiliki “manfaat” yang bersesuaian dengan apa yang dicari target pasar kita. Jika itu terjadi “bang” ia kan jadi pelangganmu. 

refillmadu.com
Lalu mengapa saya memilih produk MADU?
Lama saya merenung, kenapa tidak produk herbal lainnya? Mengapa harus madu? Dalam riset yang saya lakukan, saya menemukan beberapa fakta seputar madu.

Fakta pertama, madu adalah produk legenda. Ia sudah dikonsumi sejak ribuan tahun lalu dan khasiatnya sudah diakui banyak orang. Sudah jamak, sehingga tidak mungkin kita memunculkan sebuah isu baru bahwa madu berbahaya atau tidak layak konsumsi. Madu jadi – jadian mungkin tidak layak konsumsi. Dengan fakta ini tentunya akan memudahkan kita dalam memasarkannya. Effort untuk menjelaskan apa itu madu, apa manfaatnya, kenapa kita harus konsumsi madu? Lebih mudah menjawabnya.

Fakta kedua, ini agak menarik, bahwa ada banyak sekali penjual madu. Tapi saya belum pernah mendengar ada “perang harga” di pasar. Sesama penjual madu tetap memasang harga yang “masuk akal”. Karena apa? Kalau madunya berharga murah, dicurigai sebagai madu palsu. Hal ini yang menarik perhatian saya, kita tidak perlu takut dengan persaingan yang ada. Dan kita tetap bisa menyusun harga yang “masuk akal” baik ke konsumen dan ke internal kita.

Selain itu, MADU adalah HERBAL UTAMA, banyak produk herbal saat ini memasukkan madu sebagai salah satu campurannya. MADU juga digolongkan menjadi produk SUPER FOOD, kandungan nutrisinya sangat lengkap, tanpa perlu diolah dapat langsung dikonsumsi. 

Dan satu lagi, madu bukan produk musiman, sehingga effort untuk “inovasi” pengembangan produk tidak perlu segencar produk lain yang siklus hidup produknya pendek, MADU punya siklus hidup yang sedikit lebih panjang dari produk lain.

Inilah dasar pemikiran saya dalam melakukan studi, mengapa saya memilih produk MADU, dasar pemikiran ini bisa juga kita gunakan ke produk lain. Dari sini kita akan lebih mudah menghitung potensi “uang” yang ada di dalam pasar MADU. Sehingga studi kelayakan usaha ini bisa lebih mudah dihitung.

Dan kalaupun kita ingin “menjual” ide ini ke investor, akan lebih mudah menjelaskannya. Selain pasarnya sudah jelas, potensi pendapatannya juga jelas, tinggal kita kerahkan tenaga dan pikiran untuk memastikan produk kita diterima pasar. 

Jangan ulangi kesalahan saya dulu, memulai usaha tanpa riset pasar terlebih dahulu. Riset yang benar akan memangkas biaya – biaya yang tidak perlu nanti di awal – awal usaha. Seperti dikatakan guru marketing online, rahasia dari segala rahasia adalah riset.

Karena bisnis bukan sekedar rasa – rasa.

Sekian, saya Bag Kinantan dari refillmadu.com

#cakapbisnis

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Sudah Membaca Blog Kami, berkomentarlah yang santun.