Selasa, 27 Januari 2015

Belajar Bisnis Untuk Pemula : Sikap Mental

Sikap Mental Pengusaha

sikap mental pengusaha
Kadang kita membaca postingan para master di dunia internet marketing berupa screen shoot penghasilan mereka, postingan beberapa deal bisnis yang nilainya menggiurkan dan lain sebagainya. Lalu kita menjadi tertarik dan akhirnya ingin juga ikut serta dalam jalan yang sudah dilalui para mastah tadi. Salahkah? Tidak kawan, anda punya hak yang sama untuk menuai sukses di jalan itu.

Namun, dalam prakteknya, tidak banyak yang bertahan hingga akhirnya memperoleh penghasilan yang bisa dibilang membanggakan. Kebanyakan mereka gugur ditengah jalan karena tak kunjung mencapai apa yang sudah mastah dapatkan. Mereka merasa ditipu karena angin surga yang disampaikan para mastah itu ternyata memang benar – benar angin surga. Kita putus asa dan akhirnya mundur teratur

Begitu juga dengan bisnis offline, berdasarkan statistik masa lalu bahwa dalam 100 bisnis yang dibuka, dalam 5 tahun 100 bisnis tadi hanya menyisakan 4 bisnis, dalam 10 tahun hanya menyisakan 1 bisnis yang benar benar berhasil.

Bertahan dalam Bisnis, Bagaimana?

Pertama sekali yang harus kita perbaiki adalah sikap mental kita. Kebanyakan kita lupa bahwa untuk berhasil itu ada harga yang harus dibayarkan/ dikorbankan. Harga itu bisa berupa materi dan juga waktu. Kita mungkin bisa membayar materi yang dibutuhkan untuk usaha, namun tidak untuk waktu.

Ada dua sikap mental yang harus dimiliki oleh semua orang yang ingin menjalani hidup sebagai seorang pebisnis, pengusaha, penjual atau marketer. Pertama adalah kegigihan dan kedua adalah kesabaran. Kegigihan dan kesabaran adalah dua kunci untuk menaklukkan waktu.

Apapun media bisnis kita, baik secara online atau offline, kedua sikap mental ini menjadi modal dasar untuk terus bertahan dalam dunia tanpa kepastian ini. Karena memang satu hal yang pasti adalah ketidak pastian itu sendiri.

Untung dan Rugi dalam Usaha

Bagi yang sudah lama menggeluti bisnis pasti pernah merasakan apa yang namanya rugi, mulai dari yang kecil hingga yang besar. Saya pribadi pernah beberapa kali rugi, baik itu karena memang gagal berproduksi, barang tidak laku, hingga uang dibawa lari suplier.

Bagi yang ingin menghabiskan hidup dalam bisnis, rugi adalah makanan sehari hari. Tidak ada yang harus disesalkan dengan kerugian dialami. Semua itu ibarat jamu yang justru menguatkan, semakin memiliki sudut pandang yang lebih luas. Ibarat ujian kenaikan kelas, kerugian itu ujiannya untuk masuk dalam fase/ tingkatan bisnis yang lebih tinggi.

Kerugian adalah cara Tuhan mengingatkan bahwa ada yang salah dengan langkah yang kita ambil, sehingga harus kita evaluasi lagi langkah-langkah yang kita jalani. Semakin besar bisnis, semakin besar nilai perputaran uang, faktor rugi juga mengikuti. berbanding lurus.

Selanjutnya yang perlu kita kuasai adalah bagaimana meminimalkan faktor resiko rugi itu. Untuk manajemen resiko insyaAllah akan saya sampaikan pada cerita selanjutnya.

Sekali lagi, dua sikap mental, Sabar dan gigih inilah yang menjadi tameng agar kita mampu memandang kerugian sebagai obat kuat, pahit memang, namun disana memberikan kekuatan untuk langkah selanjutnya. 

Kesabaran berlapis memberikan bisikan pada pikiran, bahwa kerugian akan semakin mendekatkan kita dengan keberhasilan. 

Kegigihan memberikan extra fuel (bahan bakar tambahan) untuk terus melangkah. Sehingga faktor waktu yang sering memukul KO banyak pengusaha pemula, lebih mudah ditaklukkan.


------ 

baca juga : 


1 komentar:

Terimakasih Sudah Membaca Blog Kami, berkomentarlah yang santun.