Selasa, 02 Desember 2014

Bagaimana Mendapatkan Kepercayaan Saat Berjualan di Media Sosial



kepercayaan


Sering kali ada yang bertanya kepada saya, kok sulit sekali ya mendapatkan pelanggan di media sosial ini? Bagaimana sih caranya untuk mendapatkan kepercayaan teman – teman di media sosial agar dapat menjadi pelanggan kita?

Pada prinsipnya berjualan secara online ataupun offline tidak jauh berbeda. Yang berbeda hanya medianya saja. Jika online kita tidak tatap mata, jika offline kita bertemu langsung. Bagi sebagian orang, lebih mudah untuk meyakinkan saat bertemu langsung, ada juga sebagian yang malu jika harus bertemu langsung.

Prinsip yang saya yakini selalu sama adalah kita hanya membeli dari orang yang kita kenal dan kita percayai. Kenal dan percaya menumbuhkan kenyamanan. Orang kalo dah nyaman, pikiran bawah sadarnya mudah digerakkan, masih ingat pembahasan rapport building?

Prinsip kedua yang selalu sama adalah kita sebenarnya gak suka jika dijuali atau ditawarkan sebuah produk. Coba saja perhatikan jika di tepi jalan ada yang bagi brosur, kita cenderung menolak atau jika ada sales datang menawarkan produknya kita langsung menolak. 

Di media online, kurang lebih sama, kita cenderung gak terlalu suka jika ada yang broadcast pesan yang isinya promosi ataupun edukasi, atau kita di tag sebuah gambar/ statusnya yang isinya promosi produk yang kita tidak butuhkan. Atau diculik masuk sebuah grup yang gak jelas, tau tau banyak aja promosi barang di dalamnya. Penuh timeline kita dengan isi grup tersebut.

Prinsip ketiga, kita akan mudah percaya dengan penjual yang sangat paham selukbeluk produk yang dijualnya. Tidak hanya kelebihan namun juga kekurangannya, sehingga kita kalaupun membeli tidak ada penyesalan setelah barang kita terima dan terdapat sedikit kekurangan di produk tersebut. Karena sebelumnya telah dijelaskan. untuk ini telah saya jelaskan pada pembahasan product knowledge.

Lalu, bagaimana menjadikan diri kita menjadi penjual yang dikenal, dipercaya, orang nyaman berinteraksi dengan kita, tidak ada penolakan saat kita men-tag promo kita...?

Pertama, bangun kredibilitias, jadilah pribadi yang dipercaya. Baik secara offline maupun online, jika kredibilitas kita sudah semakin baik, teman – teman yang berinteraksi dengan kita secara online maupun offline akan memberikan rekomendasi secara tidak langsung kepada orang lain yang tidak kita kenal sebelumnya.

Kedua, jadilah orang yang dikenal. Kata kuncinya berinteraksilah. Media sosial ada sarana untuk saling berinteraksi. Buat apa kita berkawan jika tidak ada interaksi di dalamnya. Saling bertukar like, komen di status atau chat sesekali, akan membuat kita saling kenal. Walau tidak pernah bertemu tapi kedekatan itu terasa sekali karena hati kita sudah saling berdekatan. Saya dengan sebagian besar suplier saya, belum pernah bertemu secara fisik, namun transaksi kami sudah ratusan juta rupiah. Semua terjadi saat hati kita sudah dekat.

Ketiga, jadilah pribadi yang bermanfaat. Memberilah lebih banyak, Give and then  you will given. Memberilah kemudian engkau akan diberi. Bukan give and take, tapi memberilah tanpa berharap ada balasan, karena balasan itu akan datang dari Tuhan yang memberi inspirasi kepada orang orang disekeliling kita untuk menjadi jalan untuk memberi balasan atas apa yang sudah pernah kita beri. Memberi itu ibarat menebar benih dan memupukinya, selanjutnya biarkan alam yang bekerja untuk membantu kita menuai hasilnnya nanti.

Aplikasinya dalam media sosial adalah seringlah menulis status yang mencerahkan, menginspirasi, memberi masukan berarti, jangan pernah menulis keluhan. Apalagi jika status kita membantu menyelesaikan masalah orang lain, mereka akan sangat berterimakasih kepada anda.  Sebisa mungkin tidak men-shared sesuatu secara utuh, tapi berilah sedikit ulasan sebelum kita tampilkan sumber aslinya. Berhenti menyebarkan berita yang negatif dan provokatif.

Berbagilah dengan sesuatu yang kita ketahui, bukan dari apa yang tidak kita ketahui. kita dapat menceritakan tentang keunggulan produk kita tapi tidak secara langsung. Ini biasanya disebut soft selling, contoh saat kita bicara tentang produk pakaian maka ceritalah tentang bahan yang digunakan untuk membuat pakaian itu, kelebihan bahan itu, mengapa memilih bahan itu dan sebagainya.

Akhir dari semua proses itu adalah Personal Branding

Personal branding adalah kegiatan, aktivitas, kelakuan dan semua hal yang berhubungan dengan jatidiri sendiri yang mencerminkan siapa diri kita. Kegiatan dan kelakuan yang dilakukan selama beberapa waktu akhirnya menimbulkan karakter ataupun keahlian yang baik di mata publik. (olpreneur.com)

Saat kita sudah mempunyai sebuah personal branding yang kuat, orang – orang akan lebih mudah percaya kepada kita, mereka akan nyaman berinteraksi dengan kita, mereka akan dengan sukarela merekomendasikan kita ke orang lain. Apa indikasinya? Jumlah like, komen dan share status kita meningkat. Saat itu terjadi, selamat langkah pertama untuk berhasil dalam berjualan di media sosial sudah kita lalui.

contoh ada kawan saya, beliau membrandingkan diri sebagai pakar teknologi pikiran (berbasis NLP dan Hypnosis) , status yang beliau tulis selalu berkaitan dengan teknologi pikiran. Apa saja aplikasi teknologi pikiran dalam kehidupan sehari hari, bagaimana memanfaatkan keahlian ini untuk kemajuan karir dan bisnis dan sebagainya. Sesekali ada juga promosi training beliau, tapi gak setiap nulis status langsung ada iklan di bawahnya. Sekitar 10 status edukasi, 1 isinya promosi. Bahkan perbandingannya lebih besar.

Kita ulangi ya, pertama yang harus kita pahami bahwa prinsip jualan online dan offline adalah sama. Prinsip yang mengatakan bahwa kita hanya membeli dari mereka yang kita kenal dan percayai, kita sebenarnya gak suka dijuali/ ditawari sebuah produk, dan kita lebih nyaman bertransaksi dengan penjual yang paham seluk beluk produknya, baik kelebihan maupun kekurangan.

Untuk itu apa yang harus kita lakukan? Pertama bangun kredibilitas, jadilah pribadi yang dapat dipercaya dimulai dari dunia nyata, kedua, perbanyak intensitas interaksi agar kita dikenal, lewat apa? like, komen dan chat. Tentunya komennya dengan isi yang relevan dengan statusnya, jangan bicara asal. Orang juga gak suka kan? Ketiga, seringlah berbagi, menulis status yang bermanfaat bagi teman teman kita. Terutama target pasar kita. Ingat menjual adalah proses menawarkan solusi bagi orang lain. Jika kita tidak bisa mendeliveri nilai atau solusi dari produk kita, orang tidak akan membeli produk kita. Lewat status, kita mengedukasi pasar tentang produk kita. Tapi bukan sekedar promosi ya.

Lalu akhir dari semua itu adalah terciptanya personal branding, apa manfaatnya ? kita akan menjadi pusat perhatian, memiliki otoritas, dan setiap omongan kita didengar dan satu lagi orang orang nyaman berinteraksi dengan kita. Setelah itu terjadi, menjual menjadi sesuatu yang mudah dan ringan.

Jika masih ada yang merasa susah? Itu karena kita salah jalan, kita ingin instan dengan promosi yang sporadis, justru itu membuat orang jadi mual berinteraksi dengan kita. Semoga bermanfaaat.


Salam

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Sudah Membaca Blog Kami, berkomentarlah yang santun.