Senin, 10 November 2014

Cara Mengetahui : Hutang Baik atau Hutang Buruk

Salah satu keahlian seseorang menghadapi uangnya (financially competent) adalah mengendalikan diri dari hutang.

Pernah saat di jogja, paman istri saya bilang, "kalo mau membangun usaha jangan dari modal hutang-an"

Hutangnya sebenarnya tidak salah, yang salah adalah kita saat menghadapi hutang. Sering kita tidak mampu kendalikan diri, akhirnya malah terjerat hutang yang lebih besar dari kemampuan kita membayarnya.

Dalam prakteknya, ada hutang yang baik dan ada hutang yang buruk. Hutang yang baik adalah hutang yang mampu "melunasi" dirinya sendiri, sedangkan hutang yang buruk adalah hutang yang buat kita kesulitan untuk membayarnya.

Hutang untuk usaha

Apakah boleh kita berhutang untuk usaha? Nanti saat usahanya jalan, keuntungan usaha yang akan membayarnya? Pertanyaan saya, yakin, usaha anda akan mampu membayarnya? Jika tidak bagaimana?

Pengalaman saya yang tidak seberapa dalam menjalani usaha, banyak memberi pelajaran, bahwa gak ada yang pasti d dunia ini. Satu satunya kepastian di dunia adalah ketidakpastian itu sendiri.

Sering kali karena kurangnya ilmu dan komitmen, hutang yang diniatkan untuk usaha malah digunakan untuk kebutuhan pribadi, misalnya. Atau tidak adanya pemisahan yang jelas antara uang pribadi dan uang usaha, akibatnya pengelolaan uangnya "by laci". Butuh uang ambil ke "laci" usaha, misalnya.

Ditambah lagi gaya hidup, agar terlihat keren, terlihat pengusaha sukses, seringkali kita habiskan banyak uang untuk gaya hidup. Ada sebuah quote yang bagus.

"Yang mahal itu bukan biaya hidup, tapi gaya hidup."


Hutang baik dan hutang buruk

Seperti disinggung di atas, bahwa hutang baik adalah ketika dirinya (si hutang) mampu melunasi dirinya sendiri. Si hutang itu yang melunasi dirinya sendiri. Contoh, kita berhutang untuk beli mobil, kemudian mobilnya direntalkan, penghasilan dari rental untuk bayar cicilan mobil hingga lunas.

Namun, dalam prakteknya, kadang hutang hutang baik ini berubah jadi hutang buruk. Masalahnya ada di pengelolaan keuangan kita. Selama belum mampu kita berdisiplin dengan budget yang kita buat, belum mampu pisahkan mana uang usaha, mana uang pribadi, belum mampu memisahkan uang usaha dari modal dan keuntungan, kemudian menikmati sebagian keuntungan dan bukan menikmati uang omzet. Selama itu, kita akan terus mengubah hutang baik menjadi hutang buruk.

Hutang Buruk

Dari namanya kita tahu bahwa ini hutang harus dihindari. Karena kita akan menghabiskan energi untuk terus tunduk jadi budaknya, hingga mampu kita lunasi. Apa saja hutang yang buruk?

Hutang yang buruk adalah hutang yang menyedot penghasilan kita untuk melunasinya. Waktu kita habis untuk bekerja keras menghasilkan uang, lalu uang itu dipakai untuk membayar hutang.

Hutang buruk berikutnya adalah hutang yang kita pinjam, lalu kita harus mengembalikan lebih besar dari pokoknya, biasa disebut hutang yang berbunga. Dalam bahasa agama disebut Riba. Untuk penjelasan tentang riba dapat dibaca pada note saya yang lalu.

Riba, hutang berbunga selalu menjadi hutang yang buruk. Hindari atau hentikan. Selain tidak berkah, hutang riba akan membuat kita semakin sulit bernafas. Contoh sehari hari, pinjam di koperasi 500 ribu, cicilan 20 ribu selama 30 hari. Kartu kredit juga termasuk, betapa banyak orang terlena, saat tersadar hutangnya sudah puluhan juta.

Untuk kartu kredit, jika tidak sanggup lunasi pemakaian setiap bulannya sebelum jatuh tempo, sebaiknya jangan gunakan. Jika setelah jatuh tempo dan tidak dilunasi, maka yang terjadi adalah bunga majemuk (bunga berbunga) ini lebih bahaya lagi. Tentang bunga majemuk juga sudah saya singhung di note sebelumnya.

Kesimpulan

Hutang tidak selamanya buruk, boleh berhutang tapi pastikan anda mampu membayarnya. Jangan melangkah melebihi panjang kaki kita.

Hutang baik, jika salah kelola akan jadi hutang buruk.

Riba akan selalu jadi hutang buruk, hindari!

Semoga bermanfaat, bagikan jika anda merasa ada manfaatnya.


Salam

1 komentar:

  1. muhammad sadri16 Januari 2015 09.55

    benar juga bang, saya dagang pake uang sendiri, bisa berjalan hampir 1 tahun.
    tapi ingin jual yang lain lagi, pinjam lah duit ke KUR BRI, akhirnya apa? setelah pinjam 2 bulan malah usaha makin susut dan mau tak mau cari kerja lagi.
    akhirnya skrg gaji pun terpotong tuk bayar hutang.
    emang riba ga ada berkahnya.

    BalasHapus

Terimakasih Sudah Membaca Blog Kami, berkomentarlah yang santun.