Senin, 10 November 2014

Cara Mengundang Investor : a case study

Saya memiliki kawan yang dalam 4 tahun belakangan ini fokus mengembangkan usaha dibidang per-HP-an. Segala sesuatu tentang HP, mulai dari pulsa, Service, Asesoris dan lain lain. Dia bangun usaha ini dari nol, sampai akhirnya saat ini beliau sudah mengelola 5 konter HP yang tersebar di Cikarang Bekasi. Selain konter HP, beliau juga mengembangkan usaha dibidang makanan, yaitu bubur dan makanan bayi.

Sebut saja namanya Hadi. Saya dan hadi adalah teman dekat, kami satu sekolah saat SMA, satu kelas juga, dan terlibat diberbagai organisasi siswa yang sama juga. Hadi adalah sosok yang ulet, pekerja keras, keras kepala, tapi hormat sekali dengan orang yang lebih tua dan lebih berilmu.


Setamat sekolah SMA, saya ke ujung sumatera, beliau ke ujung jawa. Bertemu hampir tidak pernah lagi sampai akhirnya kami tamat kuliah, beliau bekerja di ASTRA, dan saya luntang lantung di jalanan. Suatu hari beliau datang ke rumah saya (kebetulan lagi ambil cuti), di sana kami ngobrol banyak hal, termasuk di dalamnya tentang pilihan hidup sebagai pengusaha. Saya yang waktu itu Cuma wiraswasta jalanan tanpa ilmu. Hadi seorang karyawan sebuah perusahaan swasta besar di negeri ini.


Dari obrolan itu, hadi cerita bahwa ia ingin sekali keluar dari pekerjaannya saat ini dan ingin memulai karir sendiri sebagai pengusaha. Cuma masih ada ragu ragu. Kenapa? Karena bulan depan ia akan menikah.


2 bulan setelah menikah, ia resmi resign dari pekerjaannya yang memiliki gaji lumayan tinggi serta fasilitas yang lumayan juga saat itu. Kemudian jualan selimut jepang. Lumayan berhasil, tapi pabriknya bubar, usaha bubar. Lalu ia mulai menjual sparepart HP, asesoris HP, komputer dll. Ambil barang di grosir, jual lagi ke kawan kawannya di pabrik.


Berjalan, ia ingin peningkatan. Munculah ide untuk mengundang investor. Apa yang dilakukannya? Pertama menyusun proposal bisnis. Apa isinya? Patungan usaha. Ia kirimkan proposal itu ke 100 orang temannya, harapannya terkumpul dana minimal 100 juta. Ia merencanakan membuka warung grosir sembako plus konter HP. Setelah berjalan 2 bulan, terkumpulah dana sebanyak 50 juta. Gak dapat 100 juta. 50 juta ini digunakan untuk menyewa toko di tempat yang strategis. Dan beberapa isi toko. Mulai Jualan. Konter HP.

Namanya usaha ada naik turun, dan alhamdulillah usaha itu berjalan dengan baik, menguntungkan, 2 tahun bekerja keras untuk menghasilkan 50 juta lagi, karena kontrak kerjasamanya 2 tahun plus bagi hasilnya.

Dari pelajaran yang pertama lahirlah konter kedua, ketiga.

Nah, setelah konter ketiga berjalan normal, ia rapikan keuangan, saatnya MENJUAL usahanya ke investor potensial.

Ini dia inti dari cerita kita, saat usaha sedang bagus, pemasukan sudah stabil, cashflow lancar dan terlihat laba bersih tiap bulannya, kita sudah mulai bisa berhitung, berapa usaha ini akan kita Jual ke investor. Menjual di sini adalah melepas saham yang kita punya, bukan melepas 100%. Manajemen tetap kita yang pegang, setiap bulan investor dapat bagi hasil dari keuntungan. Dalam beberapa tahun kontrak selesai dan usaha jadi milik kita lagi. Cuma pastikan bahwa investor memperoleh bagi hasil yang cukup besar. Plus peluang memiliki konter seperti kita punya.


Dalam kasus kawan saya ini, ia melepas 50% sahamnya di dua konter yang ia punya. Konter pertama di lepas 70 juta, dan konter kedua 65 juta. Kontrak selama 4 tahun. Dan bagi hasil rata rata setiap bulan (berdasarkan data masa lalu, setiap bulan laba bersih berkisar 5-7 juta) sebesar 2,5 – 3,5 juta. Selama 4 tahun, jika saja hanya dapat 2,5 juta per bulan, maka dalam setahun, si investor akan mendapat sekitar 30 juta, dalam 4 tahun 120 juta. Artinya uang investor tumbuh sekitar 50 juta atau 71% dalam 4 tahun atau rata rata 17,8 % per tahun. Dibandingkan dengan bunga kredit bank sebesar 14 %, masih lebih menguntungkan.


Yang ingin saya sampaikan disini adalah saat anda yakin dengan bisnis anda, jual IDE itu ke investor (usaha yang baru akan dibuka juga bisa, Cuma baca dulu tulisan saya sebelumnya tetang sebelum undang investor), namun saat usaha sudah berjalan dan keuangan sudah terlihat dan menguntungkan. Tidak ada salahnya anda jual sebagian saham anda, untuk dapatkan dana segar guna pengembangan usaha berikutnya. Buat kontrak, jangan terlalu lama, tapi pastikanan investor mendapatkan yang setimpal dengan pengorbanannya.

Salam
Semoga bermanfaat.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Sudah Membaca Blog Kami, berkomentarlah yang santun.