Selasa, 11 November 2014

Cara Menentukan Harga


Secara sederhana, harga didefinisikan sebagai nilai tukar (dapat berupa uang atau barang lain) untuk mendapatkan manfaat dari suatu barang atau jasa. Dari sisi produsen cara menentukan harga adalah dengan menjumlahkan antara total biaya produksi ditambah dengan keuntungan yang diinginkan. Harga adalah salah satu dari 4 P dalam Marketing Mix atau bauran pemasaran.

Sebelum lebih jauh bicara tentang penentuan harga, ada beberapa jenis harga yang bisa jadi bahan bacaan guna menunjang pemahaman kita. Beberapa jenis harga tersebut antara lain: 

Harga untuk produk baru 

harga skimming 
harga yang dipatok di awal tinggi, kemudian seiring berjalan waktu dan masuknya kompetitor harga menjadi turun. Contohnya seperti produk HP, harga saat baru keluar akan di patok tinggi, kemudian turun, apalagi setelah mendapatkan target penjualan yang dicanangkan perusahaan. 

harga penetrasi 
sepertinya harga ini menjadi lawan dari harga skimming, karena produsen memberikan harga serendah-rendahnya saat peluncuran produk baru. tujuannya adalah untuk penetrasi pasar agar terbangun dulu ikatan dengan produsen, selanjutnya diharapkan pelanggan bertambah dan menjadi loyal. Contohnya seperti saat peluncuran kartu perdana 3 atau yang lainnya. 

Harga Psikologis 

Strategi harga ini tujuannya menyentuh sisi psikologis konsumen agar membeli. Beberapa jenis harga psikologi antara lain: 

harga prestise 
harga ini dibuat untuk membangun imej bahwa produk yang kita jual itu berkelas dan berkualitas. Umumnya digunakan untu produk produk dengan jalur pemasaran khusus seperti harga di pakaian di butik dan distro. 

harga ganjil 
biasanya kita temukan ini di swalayan, tujuannya mengelabui konsumen agar mengira bahwa harga barang tersebut lebih murah, contohnya seperti harga pakaian di sebuah departemen store harga yang dipasang Rp. 99.900, agar timbul kesan harganya lebih murah dari pada jika tertulis Rp. 100.000 

harga rabat 
harga ini biasanya jika kita membeli lebih dari satu produk, contohnya seperti produk kami Madu Hitam Pahit, jika beli 1 botol harganya Rp. 55.000, namun jika membeli 3 botol, harganya menjadi Rp. 50.000 

harga lini 
harga ini sesuai dengan kelas konsumennya, misalnya tiket konser ada kelas ekonomi, vip dan lain sebagainya. 

pemimpin harga 
menetapkan harga dibawah harga pasaran, tujuannya untuk meningkatkan omzet. 

Harga Diskon 
Biasanya jika ada momen tertentu penjual melakukan program diskon, misalnya menjelang hari raya atau hari peringatan lainnya. 

Harga Kompetitif 

harga relatif 
harganya mengikuti harga pesaing, kadang di atas kadang di bawah atau sama dengan pesaing. 

Harga mengikuti pemimpin pasar 
berapa harga dari market leader, ikut saja. Tidak menetapkan harga sendiri. 

Bagaimana menentukan harga? 

Secara sederhana, untuk menentukan harga adalah dengan menjumlahkan semua biaya produksi kemudian di tambah dengan laba yang diinginkan. Seperti penjelasan di atas, menentukan harga juga harus bersesuaian dengan strategi pemasaran produk tersebut. 

Strategi pemasaran dimulai dengan memperhatikan bauran pemaran yang biasa disebut STP, Segmentasi, Targeting, dan Positioning. Kepada siapa produk ini akan kita jual? Itu pertanyaan pertama yang harus kita jawab. Karena bagi sebagian konsumen harga Rp. A bisa jadi murah, namun bagi konsumen yang lain ini menjadi mahal. Definisikan pasar yang ingin kita jaring dengan benar, agar dapat dengan tepat kita tentukan harga yang pas. 

Kedua, pahami hukum dasar permintaan. Jika permintaan lebih banyak dari pasokan, maka penjual atau pemasok memiliki posisi tawar yang tinggi, yang punya barang bisa memainkan harga. Jika permintaan sama dengan pasokan, biasanya harga akan stabil. Yang repot itu kalau pasokan lebih besar dari permintaan. Bakal ada perang harga, banting-bantingan harga. Nah, coba lihat lagi produk kita berada pada posisi mana dalam ketiga hukum permintaan ini. Ohya coba pelajari juga faktor yang mempengaruhi permintaan. Untuk ini anda bisa baca buku Buka Langsung Laris-nya Jaya Setiabudi. 

Ketiga, pada awalnya permintaan terhadap suatu barang/ jasa hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar (pokok) saja. Lambat laun dengan bertambahnya daya beli, membeli bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan dasar, namun ada sisi emosional yang harus dipenuhi. Dalam bahasa mas jaya setiabudi lagi, bahwa harga itu adalah penjumlahan antara Konten dan Konteks. Konten itu adalah biaya produksi barang itu sendiri, lalu ada unsur konteks yang bisa membedakan harga yang satu dengan lain, yaitu unsur emosi, merek, kemasan, imej, gengsi dan lain lain. 

Jadi, kesimpulannya bahwa menentukan harga itu bukan sekedar menjumlahkan harga produksi dan laba yang diinginkan. Dengan pasar yang semakin kritis, definisikan pasar yang ingin anda jaring dengan lebih detail lagi. Lalu perkuat merek dan imej produk anda. Buat perbedaan dengan produk sejenis lainnya di pasaran. jangan terjebak imej komoditas. Maka anda akan dapat menjual dengan lebih tinggi. 

Coba perhatikan, harga teh manis dingin dengan ice tea saja dah beda harganya padahal Cuma beda penyebutannya saja, konten sama Cuma ada unsur emosi dan imej yang lain, karena beda namanya. Kedua harga es teh tadi di warung kopi pinggir jalan hanya Rp. 3000, coba beli di cafe di pusat perbelanjaan harganya juga bisa beda lagi menjadi Rp. 7.000. 

Awalnya, hanya konten dengan sedikit penambahan konteks akan meningkatkan harga jual. Semoga dengan penjelasan singkat ini bisa dipahami, maaf agak panjang...hehe

4 komentar:

  1. Sangat suka dengan tulisan ini. Redaksinya sangat mudah dipahami. Terimakasih sudah berbagi Tema ini. Bravo selling!

    BalasHapus
  2. sama sama mas...semoga membantu...hehe

    BalasHapus
  3. Sangat inspiratif kawan... Trims atas masukannya

    BalasHapus

Terimakasih Sudah Membaca Blog Kami, berkomentarlah yang santun.