Senin, 17 November 2014

Buka Usaha Karena Ingin Bermalas Malasan

[Bab 2, ebook 11 kesalahan Manajemen Usaha untuk Pemula]

Nah, bagian ini favorit kebanyakan orang yang buka usaha sendiri. Pengen bermalas malasan.  Kalo buka usaha sendiri, tidak ada yang bakal mengatur, tidak ada yang akan marah, tidak perlu bangun cepat, tidak perlu berangkat pagi pagi. Semua bebas, tergantung kita sendiri.
Hati hati dengan pemahaman seperti ini. Hal ini akan menjebak kita dan akhirnya malah menenggelamkan kita sendiri. Pemikiran ini seharusnya kita balik, “saya buka usaha agar saya lebih rajin, karena saya menentukan sendiri nasib saya, mau berhasil atau tidak itu tergantung dari sejauh mana usaha saya. Saya membuka usaha bukan karena saya ingin bermalas malasan, tapi agar dapat memberi manfaat lebih kepada orang lain dengan hadirnya usaha saya. Dengan saya membuka usaha paling tidak usaha ini bisa menyerap tenaga kerja, usaha usaha pemasok bahan baku bisa terbantu dan lain lain.”
Untuk awal usaha, kita harus bekerja ekstra, kita harus berikan 24 jam kali 7 hari untuk memastikan usaha kita hidup dan menghasilkan.  Jika di awal kita sudah bermalas-malasan, saya gak yakin usaha kita akan tumbuh dan membesar.
Memang  beberapa pelatih bisnis mengatakan bahwa bisnis itu harus malas, karena jika kita terlalu rajin, semua kita kerjakan sendiri, kita gak bakalan merekrut karyawan. Sehingga usaha kita kurang memberi manfaat pada orang lain.
Kadang, malasnya itu kelewatan, yang saya maksud kita harus rajin dan kerja keras di awal awal adalah kita harus maksimalkan semua proses kreatif kita 7 kali 24 jam, bagaimana bisnis ini mampu terus tumbuh dan berkembang. Bukan bermalas malasan dengan bangun siang, banyak main game dan buang – buang waktu lainnya. 
Di awal usaha, kecuali kita punya modal besar, monggo rekrut banyak banyak orang untuk membantu dalam bisnis kita, Cuma biasanya kalo dengan modal seadanya, kan gak mungkin langsung ambil orang banyak –banyak untuk membantu dalam bisnis kita?
Atau kita menemukan karyawan yang bisa dibayar berdasarkan kinerja, monggo.
Atau karyawan yang sangat bagus, kerjanya sangat memuaskan dan mampu menghasilkan banyak penjualan, itu lebih bagus. Sayangnya menemukan tim yang kuat atau karyawan yang super tadi itu butuh waktu. Kita akan melakukan bongkar pasang anggota tim bisnis kita sampai akhirnya ditemukan yang paling pas. Dan itu biasanya butuh waktu yang tidak sedikit. Itu sih pengalaman saya, mungkin kita punya pengalaman yang berbeda, monggo di share.
 Kita adalah sosok yang paling bertanggung jawab dengan tumbuh atau tidaknya usaha yang kita dirikan. Di awal usaha saya lebih sepakat bahwa kita harus memberikan 24 jam kali 7 hari waktu kita untuk bagaimana bisa membesarkan bisnis yang kita bangun. Saat penjualan sudah stabil dan cenderung meningkat, lalu keuangan stabil, rantai distribusi sudah terbentuk dan stabil, mulai bisa kita buat beberapa SOP dan akhirnya sistematisasi bisnis kita, dan mulai rekrut beberapa orang untuk menjalankannya. Namun tetap peran kita sebagai supervisi harus tetap dijalankan. Jangan langsung tinggalkan usaha ini. Jika memungkinkan mulai berpikir buka cabang dan pengembangan – pengembangan lain yang dirasa perlu.
Saya membaca buku “onward” yang ditulis oleh pemilik starbuck, bagaimana beliau membangun starbuck. Butuh waktu lebih dari 20 tahun untuk beliau melepaskan jabatan sebagai CEO (direktur) di starbuck dan akhirnya menyerahkan kepada orang yang tepat. Dan banyak bisnis lain yang pemiliknya butuh waktu yang tidak sedikit untuk mulai melepaskannya dan menyerahkan pengembangan bisnis kepada orang lain. Dan menyerahkan kepada orang yang benar benar memahami filosofi perusahaan (bisnis yang kita bangun) itu gak gampang. Butuh seleksi ketat, dan waktulah yang paling mampu menyeleksi siapa yang benar benar tepat menggantikan posisi kita. 

ebooknya gratis.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Sudah Membaca Blog Kami, berkomentarlah yang santun.