Kamis, 27 November 2014

Product Knowledge : Pengetahuan Produk

product KnowledgeAda pertanyaan dari calon konsumen, “Maaf bang madu abang aman gak untuk penderita diabetes?” Apa yang harus saya jawab? Kalau saya jawab aman, rupanya tidak aman artinya saya berbohong. Kalau saya bilang gak aman artinya saya kehilangan calon pembeli?

Dalam kasus ini, salah satu kuncinya adalah product knowledge atau pengetahuan produk. Sehingga saya bisa menjawab pertanyaan calon konsumen secara ilmiah dan akhirnya mereka  membeli produk saya.

Pertanyaannya apa guna product knowledge?

Seandainya kita disuruh untuk memilih mana yang paling mudah menjual produk yang kita ketahui seluk beluknya baik itu kelebihan dan kekurangannya,  atau yang tidak kita ketahui?  Product knowledge bukan hanya fokus kepada pengetahuan kita tentang seluk beluk produk kita, kelebihan dan kekuraangan serta manfaatnya, namun juga faktor lain yang harus kita ketahui, antara lain :

Kita harus mampu mendemonstrasikan produk kepada calon pembeli agar ia dapat melihat dan merasakan kualitas produk kita. Dengan demikian akan muncul keyakinan dalam benaknya tentang produk kita



Kita harus mengetahui dengan jelas segmentasi masing masing produk, jangan sampe salah sasaran, untuk pembahasan segmentasi bisa dilihat disini.

Kita harus mengetahui juga perkembangan produk kompetitor, sepak terjangnya dan lebih baik jika kita membandingkan head to head keunggulan produk kita dengan produk kompetitor

Apa yang harus kita dan calon pembeli ketahui tentang produk kita, ada yang menyebut FKM (Fakta/ Fitur yang ada pada produk, Keunggulan dari fakta tersebut, Manfaat dari fitur tersebut.

Bagaimana aplikasinya?

Contoh produk kita ambil satu produk, misalnya teknologi ISS (idling Stop system)  Honda Vario 125 ISS.

Fiturnya : ISS,
Keunggulannya : mematikan mesin secara otomatis apabila motorberhenti lebih dari 3 detik, untuk menghidupkannya kembali cukup dengan menarik tuas gas saja.

Manfaat : Menghemat bahan bakar dan mengurangi polusi udara.

Dengan FKM ini kita jadi lebih mudah untuk melakukan demostrasi produk kepada calon konsumen.
Bentuk penyampaian kepada calon konsumen bisa seperti ini:

Pak, mau gak motornya lebih hemat bahan bakar? Dan merasakan teknologi kelas dunia? Coba bayangin pak, berapa banyak kita berhenti di lampu merah atau karena macet, bahan bakar terbuang sia sia, emisi gas dari knalpot juga bikin lingkungan panas, pembororsan banget gak tu pak? Sayang bensin dah naik lagi.
Namun, hal itu gak bakal terjadi jika bapak menggunakan motor ini, karena motor ini apabila berhenti lebih dari 3 detik, maka mesin otomatis akan mati, bahan bakar setetespun tidak akan keluar, emisi sedikitpun tidak ada dan apabila ingin menghidupkan motor kembali tidak perlu on/off kunci kontak, tidak perlu tekan starter, cukup tarik saja sedikit tuas gasnya,motor langsung kembali menyala. Inilah keunggulan teknologi ISS, teknologi yang hanya ada di motor honda tidak yang lain.

Itulah tadi manfaat dari jika kita memahami produk kita dengan baik. Jika product knowledge kita baik. Selain lebih mudah meyakinkan calon pembeli, kita juga bisa menghandle penolakan atau komplain calon pembeli karena ketidaktahuan mereka atas produk kita.

Semoga bermanfaat

*) sumber dari diskusi KPMI medan

Minggu, 23 November 2014

Marketing Mix : Place (Lokasi)



Dalam pembahasan marketing mix berikutnya adalah tentang Lokasi atau Place. Sebelumnya saya telah menuliskan tentang bagaimana menentukan harga produk dan tentang promosi yang merupakan bagian dari 4 P dalam marketing mix.

P selanjutnya adalah Place atau lokasi. Lokasi memainkan peranan penting dalam mementukan strategi pemasaran yang tepat. Sampai – sampai banyak orang mengatakan bahwa jika anda ingin berhasil dalam bisnis ada tiga syaratnya, pertama lokasi, kedua lokasi dan ketiga adalah lokasi.

marketing mix : lokasi
Dalam pembahasan pertama tentang Segmentasi, telah saya jelaskan bahwa kita tidak mungkin menjaring semua orang untuk menggunakan produk kita. Terlalu besar energi, biaya dan waktu yang harus kita habiskannya. Kita harus memilah dan memilih pasar yang paling sesuai dengan produk yang kita tawarkan.

Untuk memperbesar konversi pembelian pada produk kita, maka kita harus memastikan bahwa produk kita banyak dilihat dan ditemukan oleh target pasar kita. Karena alasan kemudahan menemukan dam mendapatkan produk kita, maka lokasi memainkan peranan yang sangat strategis dalam strategi pemasaran kita.

Tentunya dalam memilih lokasi, kita perlu mempertimbangkan banyak hal. Lokasi yang terbaik adalah lokasi dimana para “semut” (baca: target pasar kita) banyak berkumpul. Jika ingin dagangan kita laku keras, berjualanlah di dekat para semut ini berkumpul. Namun, untuk mendapatkan lokasi prime itu kadang kita harus membayar harga yang tidak sedikit. Coba bandingkan dengan kemampuan keuangan kita.

Lokasi yang bagus berikutnya adalah lokasi kita adalah jalur lalu lintas si semut. Baik ketika berangkat maupun pulang. Lokasi ini juga memberikan konversi yang tinggi. Harga juga masih tergolong mahal, namun dengan perhitungan yang keuangan yang tepat, dan memang dapat dipastikan memberikan keuntungan yang sepadan, harga bukanlah masalah kan?

Lokasi berikutnya, yang penting ramai dulu. Hehe, cara menguji ramai atau tidaknya suatu lokasi, coba secara random, kita menyebrang jalan di depan kita punya lokasi jualan. Jika kita masih butuh lihat kanan kiri dan masih harus hati hati dalam menyebrang, lokasi tersebut masih tergolong ramai, namun jika kita tidak perlu lihat kanan kiri saat menyebrang serta bisa slonong boy aja, pikir pikir lagi deh hehe.

Saya memiliki teman memiliki usaha konter HP, jual pulsa, aksesoris HP, servis HP, beliau selalu memilih lokasi yang berada tepat di depan sebuah perumahan. Target pasarnya adalah penghuni perumahan. Dan strategi ini jitu, keuntungan bersih perbulan tidak pernah kurang dari 5 juta. Kebetulan beliau punya 5 konter HP dengan besar penghasilan yang kurang lebih sama dan dengan strategi yang sama.

Nah, bagi teman – teman coba evaluasi pemilihan lokasi jualan kita selama ini, sudahkah kita mendekatkan produk kita dengan target pasar kita? Jika belum, segera cari lokasi yang paling dekat dengan target pasar kita agar tingkat konversi produk kita semakin tinggi. Jika konversi tinggi maka pendapatan kita semakin tinggi.

Jika terkait dengan penentuan lokasi pabrik, ada beberapa kriteria lain yang perlu di pertimbangkan, selain dekat dengan target pasar, kita perlu mempertimbangkan akses, kedekatan dengan sumber bahan baku dan tenaga kerja.

Ok, ini sebagai gambaran tentang marketing mix yang ketiga yaitu Place atau lokasi.


Semoga bermanfaat.


salam

Jumat, 21 November 2014

Marketing Mix (Bauran Pemasaran) : PROMOTION

marketing mix : promosi

Salah satu dari 4 P (atau 7 P saat ini) dalam marketing mix adalah Promotion.

Sebelumnya kami telah menuliskan salah satu dari 4 P, yaitu Tentang Harga. 

Promosi itu apa? Menurut Wikipedia, promosi adalah upaya untuk memberitahukan atau menawarkan produk atau jasa  denan tujuan menarik calon konsumen untuk membeli dan mengkonsumsinya.  Dengan adanya promosi, produsen  atau distributor mengharapkan kenaikan angka penjualan.

Dalam bahasa yang sederhana, promosi adalah the way to communicate, cara untuk berkomunikasi dengan calon konsumen. Cara untuk menyampaikan apa yang ada dalam produk kita dan apa manfaat yang bisa didapatkan konsumen dengan menggunakan produk kita.

Secara umum tujuan promosi adalah untuk : 
1) menyebarkan informasi produk kepada target pasar, 
2) mendapatkan kenaikan penjualan dan laba, 
3) mendapatkan pelanggan baru dan mempertahankan yang lama, 
4) menjaga kestabilan penjualan, 
5) membedakan dengan produk pesaing, 
6) membentuk citra produk, 
7) mengubah pendapat dari konsumen.

Media untuk berpromosi ada banyak dapat melalui : email, sms, pembicaraan langsung, iklan di koran, radio, televisi, memanfaatkan media sosial, dan lain lain.

Apa isi dari promosi kita? Pertama sekali sebelum menyusun konten promosi, coba kita jawab pertanyaan berikut ini, apa yang menajadi “masalah” dari konsumen yang kita targetkan? Jika kita sudah menemukan jawabannya, selanjutnya adalah kita harus mampu menjelaskan value (nilai) dari produk kita yang mana nilai tersebut mampu menjawab permasalahan yang sedang dihadapi oleh target konsumen kita.

Ingat bahwa konsumen hanya membeli sesuatu yang berguna bagi mereka, pastikan produk kita sangat berguna bagi mereka.

Berikut ini ada 3 (tiga) pertanyaan yang harus dijawab sebelum kita meluncurkan sebuah materi promosi baru.

  1.  Apakah informasi dalam materi promosi yang kita luncurkan udah cukup? Artinya value (nilai) yang dapat menjawab permasalahan konsumen sudah tersampaikan semua.
  2. Apakah materi promosi kita attractive? Menarik perhatian? Jika tidak cukup atraktif, silahkan perbaiki lagi.
  3. Apakah informasi yang ada sudah memadai untuk konsumen mengambil keputusan? ada kalimat yang memanggil konsumen untuk mengambil keputusan untuk membeli. 


inilah salah satu dari 4 atau 7 P dari Marketing Mix atau Bauran Pemasaran

Selamat mencoba, semoga bermanfaat


Salam.


-----
gambar dipinjam dari sini

Selasa, 18 November 2014

Cara Memaksa Calon Pembeli, untuk Membeli

Bagi kita yang berprofesi sebagai penjual pasti sering banget menjumpai calon pembeli  yang sudah bertanya  kesana kemari, ujung - ujungnya Cuma bilang, “Makasih ya mas/mba atas infonya, saya cari yang lain dulu.” Baik itu yang jual offline maupun di online. Akhirnya ada yang tanya ke saya, bagaimana caranya biar kalimat terakhir bukan itu, tapi “saya ambil yang ini ya mas/mba.” “kirim no rekening ya” atau “udah aku transfer ya.” Lebih enak lagi kalo si pembeli bilang, “saya ambil yang ini 5 ya.”

Pertama sekali jelas kita harus bisa membuat pembicaraan dengan si calon pembeli menjadi pembicaraan yang hangat, kita perlu bangun kedekatan dulu dengannya, bagaimana caranya? Silahkan baca disini. Selanjutnya kita harus menemukan kalimat yang tepat dan dapat memaksa dia untuk membeli. Namun dengan cara yang elegan.

Kata kuncinya adalah jangan memberi banyak pilihan kepada calon pembeli, apalagi sampai memberi dia kesempatan untuk berpikir lebih lama. Jadi, jika kira - kira obrolan kita sudah cair tinggal closing, segera mulai arahkan pilihan – pilihan pembeli menjadi semakin sempit dan semakin sedikit pilihan.

Itulah sebabnya kita perlu lebih banyak bertanya agar dapat memahami apa keinginan, apa kebutuhan dan apa masalah yang dimiliki calon pembeli. Sehingga solusi yang kita tawarkan menjadi sulit untuk ditolak. Kedua, jangan menggunakan pertanyaan yang berpotensi dijawab TIDAK. Contoh : Bagaimana mas deni, jadi diambil Hapenya? Kalo dia jawab nggak, selesai sudah.

Sebelum memunculkan kalimat untuk closing (urutan proses jualan bisa dibaca di sini), perlu kita lihat dulu ciri ciri calon pembeli sudah mulai siap untuk di closing, cirinya dapat dilihat secara verbal atau non verbal. Kalo verbal , calon pembeli akan berkata : oh, gitu..., wah menarik ya...ya ya ya...boleh juga tuh...hmm, kalo aktivitas non verbalnya terlihat dari mengangguk – ngangguk, usap dagu, bertanya tanya, senyum, badan dah condong ke depan, menyimak dengan penuh perhatian, partisipasi aktif.

Apa saja contoh kalimat untuk mempersempit pilihan calon pembeli, hingga peluang closing dan transaksi lebih besar?


  • Jadi, bapak lebih suka  warna merah atau biru?
  • Mau bayar tunai atau kredit pak?
  • Mau dikirim barangnya atau diambil kesini pak?
  • Dikirim ke rumah atau ke kantor?
  • Mau ambil 2 atau 3 pak? Kalo dua diskon 10%, kalo 3 diskon 10% plus ongkos free ongkir.
  • dll

Coba perhatikan pertanyaan di atas, ada peluang si calon pembeli berkata tidak?
Ingat, pertama bangun kedekatan, perhatikan calon pembeli apakah sudah siap untuk closing, perhatikan pertanyaan kita jangan sampai memberi kesempatan calon pembeli berkata tidak, dan persempit pilihan sehingga ia tidak punya kesempatan untuk berpikir dan memutuskan terlalu lama. Teknik ini memang butuh latihan, yang penting coba dulu, evaluasi hasilnya dan perbaiki terus menerus. Be creative. Selamat mencoba.


Salam.

Senin, 17 November 2014

Buka Usaha Karena Ingin Bermalas Malasan

[Bab 2, ebook 11 kesalahan Manajemen Usaha untuk Pemula]

Nah, bagian ini favorit kebanyakan orang yang buka usaha sendiri. Pengen bermalas malasan.  Kalo buka usaha sendiri, tidak ada yang bakal mengatur, tidak ada yang akan marah, tidak perlu bangun cepat, tidak perlu berangkat pagi pagi. Semua bebas, tergantung kita sendiri.
Hati hati dengan pemahaman seperti ini. Hal ini akan menjebak kita dan akhirnya malah menenggelamkan kita sendiri. Pemikiran ini seharusnya kita balik, “saya buka usaha agar saya lebih rajin, karena saya menentukan sendiri nasib saya, mau berhasil atau tidak itu tergantung dari sejauh mana usaha saya. Saya membuka usaha bukan karena saya ingin bermalas malasan, tapi agar dapat memberi manfaat lebih kepada orang lain dengan hadirnya usaha saya. Dengan saya membuka usaha paling tidak usaha ini bisa menyerap tenaga kerja, usaha usaha pemasok bahan baku bisa terbantu dan lain lain.”
Untuk awal usaha, kita harus bekerja ekstra, kita harus berikan 24 jam kali 7 hari untuk memastikan usaha kita hidup dan menghasilkan.  Jika di awal kita sudah bermalas-malasan, saya gak yakin usaha kita akan tumbuh dan membesar.
Memang  beberapa pelatih bisnis mengatakan bahwa bisnis itu harus malas, karena jika kita terlalu rajin, semua kita kerjakan sendiri, kita gak bakalan merekrut karyawan. Sehingga usaha kita kurang memberi manfaat pada orang lain.
Kadang, malasnya itu kelewatan, yang saya maksud kita harus rajin dan kerja keras di awal awal adalah kita harus maksimalkan semua proses kreatif kita 7 kali 24 jam, bagaimana bisnis ini mampu terus tumbuh dan berkembang. Bukan bermalas malasan dengan bangun siang, banyak main game dan buang – buang waktu lainnya. 
Di awal usaha, kecuali kita punya modal besar, monggo rekrut banyak banyak orang untuk membantu dalam bisnis kita, Cuma biasanya kalo dengan modal seadanya, kan gak mungkin langsung ambil orang banyak –banyak untuk membantu dalam bisnis kita?
Atau kita menemukan karyawan yang bisa dibayar berdasarkan kinerja, monggo.
Atau karyawan yang sangat bagus, kerjanya sangat memuaskan dan mampu menghasilkan banyak penjualan, itu lebih bagus. Sayangnya menemukan tim yang kuat atau karyawan yang super tadi itu butuh waktu. Kita akan melakukan bongkar pasang anggota tim bisnis kita sampai akhirnya ditemukan yang paling pas. Dan itu biasanya butuh waktu yang tidak sedikit. Itu sih pengalaman saya, mungkin kita punya pengalaman yang berbeda, monggo di share.
 Kita adalah sosok yang paling bertanggung jawab dengan tumbuh atau tidaknya usaha yang kita dirikan. Di awal usaha saya lebih sepakat bahwa kita harus memberikan 24 jam kali 7 hari waktu kita untuk bagaimana bisa membesarkan bisnis yang kita bangun. Saat penjualan sudah stabil dan cenderung meningkat, lalu keuangan stabil, rantai distribusi sudah terbentuk dan stabil, mulai bisa kita buat beberapa SOP dan akhirnya sistematisasi bisnis kita, dan mulai rekrut beberapa orang untuk menjalankannya. Namun tetap peran kita sebagai supervisi harus tetap dijalankan. Jangan langsung tinggalkan usaha ini. Jika memungkinkan mulai berpikir buka cabang dan pengembangan – pengembangan lain yang dirasa perlu.
Saya membaca buku “onward” yang ditulis oleh pemilik starbuck, bagaimana beliau membangun starbuck. Butuh waktu lebih dari 20 tahun untuk beliau melepaskan jabatan sebagai CEO (direktur) di starbuck dan akhirnya menyerahkan kepada orang yang tepat. Dan banyak bisnis lain yang pemiliknya butuh waktu yang tidak sedikit untuk mulai melepaskannya dan menyerahkan pengembangan bisnis kepada orang lain. Dan menyerahkan kepada orang yang benar benar memahami filosofi perusahaan (bisnis yang kita bangun) itu gak gampang. Butuh seleksi ketat, dan waktulah yang paling mampu menyeleksi siapa yang benar benar tepat menggantikan posisi kita. 

ebooknya gratis.

Minggu, 16 November 2014

Cara Menemukan Pasar yang Potensial

Beberapa waktu yang lalu ada yang bertanya, bagaimana menemukan pasar yang potensial untuk produk kita. Pertama yang harus kita ketahui adalah pasar potensial adalah mereka yang membutuhkan, dan memiliki daya beli terhadap produk kita. Jika hanya membutuhkan dan tidak punya daya beli, percuma, kita cape menjelaskan manfaat produk namun ia tidak punya uang untuk membeli. Atau mereka punya daya beli, namun produk kita bukan yang mereka butuhkan, mentah juga.

Lalu bagaimana?

Dalam pembahasan lalu, dalam artikel cara menyusun strategi pemasaran telah saya sampaikan tentang Segmentasi, Targetting dan Positioning atau yang biasa disebut sebagai STP. Dan artikel kali ini adalah lanjutannya. untuk menemukan pasar yang potensial, kita harus menjawab pertanyaan di bawah ini.

Pertama, berapa USIA pasar yang akan kita bidik. Karena setiap kelompok usia memiliki kecenderungan yang berbeda. Anak – anak, remaja atau dewasa, menikah atau belum menikah? Untuk itu, kita harus dengan spesifik menentukan USIA calon pembeli produk kita. Salah dalam menentukan bagian ini akan berakibat pada strategi yang salah dan akan menghabiskan energi.

Kedua, Laki – Laki atau Wanita. Jika kedua jenis kelamin ini yang akan kita bidik, persentasenya berapa - berapa? 50 : 50? Ini masih terlalu luas, persempit, apakah kita fokus untuk pria atau wanita. lagi lagi karena kebutuhan, kecenderungan dua jenis kelamin ini juga berbeda. Terlalu luas kita nanti gagal fokus, akhirnya malah entah kemana. Nyasar.

Ketiga, berapa penghasilan mereka. terkait daya beli dan kecenderungan juga. Produk kita relatif mahal, untuk mereka yang sensitif dengan harga akan kritis sekali dan kalaupun mereka membutuhkan, mereka akan berusaha minta harga diturunkan, menurunkan profit. Sedangkan untuk mereka yang tidak sensitif dengan harga saat kita tawarkan produk yang murah, walau bagus, mereka akan menganggap produk murahan. Pertanyaan ketiga ini juga penting, berapa penghasilan mereka?

Keempat, Dimana mereka berkumpul. Ini jadi pertanyaan yang paling penting. Setelah ketiga pertanyaan di atas bisa kita jawab, pertanyaan keempat ini harus bisa kita jawab juga dengan jawaban yang sangat spesifik. Dimana mereka berkumpul. Tujuannya apa? Agar kita tidak salah menjual. Repot juga kan jualan tasbih di depan diskotik? Laku sih, Cuma entah kapan kan? Jualan tasbih sebaiknya dimana? Yap di depan masjid. Bukan di depan diskotik.

Mungkin ini dulu empat pertanyaan yang harus kita jawab untuk mempertajam strategi pemasaran kita, sehingga kita dapat menemukan pasar yang potensial untuk produk kita. Dan tentu saja kita tidak terlalu membutuhkan energi besar untuk mendapatkannya. Mungkin pertanyaan dalam hati kita saat merasa kok susah sekali menjualnya dapat terjawab, kenapa? Karena kita salah menentukan pasar yang akan kita sapu. Kita salah memilih tempat berjualan.



Semoga bermanfaat.

Sabtu, 15 November 2014

Mulai Dulu

mulai aja dulu...hehe,

kalau memang kawan kawan ingin mendapatkan penghasilan tambahan, yang perlu kawan kawan lakukan adalah memulainya. dari mana? paling mudah adalah dari JUALAN, mulailah berjualan.

apa yang hendak dijual? modal dari mana?

Pertanyaan klise, begitu banyaknya barang bertebaran di dunia online ini, mulai dari fesyen, hingga obat herbal.

"selalu ada jalan" begitu kata orang tua kita, jika memang kemauan kita keras. TUHAN akan berikan jalannya.

mulailah dengan menjualkan produk orang lain, ambil persenan. anda punya aku media sosial? itu dah modal penting untuk anda. minimal ada jaringan anda yang bakal tahu bahwa anda memiliki sesuatu yang dijual. jika mereka membutuhkan, mereka akan beli, jika tidak, paling tidak saat ada yang membutuhkan barang yang anda jual, teman anda tadi bis amemberikan referensi.

perbaiki kemampuan menjual kita, pelan pelan, belalar dari banyak orang yang sudah berhasil, lagi lagi saya katakan bahwa ilmu gratis bertebaran, termasuk dengan membaca blog ini. hehe

jadi prosesnya, -punya kemauan- lihat peluang - cari barang barang - mulai berjualan di media sosial - sembari belajar teknik jualan di blog ini.

---------

NB :

kalau anda belum punya sesuatu yang ditawarkan, saya punya link grosir madu hutan, anda bisa memulai dengan menjual produk terbaik dari alam sebagai penjaga kesehatan kita. MADU, saya dengar untuk program resellernya diskon hingga 40% dari harga eceran, lumayan.

atau jika anda saat ini bekerja sebagai guru (TK, SD, SMP, SMA) atau staff administrasi baik di sekolah atau kampus, atau anda bekerja di sebuah perusahaan, saya punya peluang kerjasama untuk anda yaitu KONVEKSI SERAGAM, anda bisa juga mulai dari sana.

atau saat ini saya sedang mencoba mengembangkan sebuah komunitas pengusaha pemula, dan masih kecil namun punya niat untuk besar di facebook, anda bisa gabung disana untuk belajar berjualan atau mencari link penyedia barang yang bisa di jual kembali.

peluang banyak kok, tinggal buka mata dan telinga lebih lebar agar dapat menjaring saat ia lewat.

salam

Kamis, 13 November 2014

Urutan Proses Jualan

Berikut ini  adalah urutan proses dalam berjualan. Proses ini berlaku umum, baik untuk online ataupun offline.
proses jualan

Semua diawali dengan proses perkenalan dan pendekatan. Bagaimana prosesnya, apa yang harus di bangun dalam tahapan ini? Silahkan baca disini.

Yang bertanya yang menang,

Ini prinsip bagi setiap penjual, kita harus lebih banyak mendengar, untuk apa? Untuk menggali apa sebenarnya kebutuhan, keinginan dan masalah yan dihadapi oleh calon pelanggan. Tugas pokok kita berjualan adalah untuk memberikan solusi atas masalah pelanggan. 

Ingat pelanggan hanya membeli jika itu memang berguna bagi mereka.

Setelah kita ketahui, apa sebenarnya yang mereka cari, saat itulah kita mulai masuk untuk menawarkan solusi atas masalah yang mereka hadapi. Solusi itu ada pada produk kita.
Akhirnya, closing. Konsumen membeli produk kita dan traksi berlangsung.


Bicara menjual, maka kita bicara proses. Ingat juga bahwa kita itu sebenarnya tidak begitu nyaman dengan penawaran - penawaran. Karena hampir setiap saat ada orang yang datang menawarkan barang/ jasanya. Dan konsumen hanya membeli dari mereka yang dikenalnya dan karena memang ia menganggap produk yang dibelinya itu berguna.  

salam jualan

Rabu, 12 November 2014

Cara Memulai Usaha Tanpa Modal




Cara Memulai Usaha Tanpa Modal - Belajar Bisnis untuk Pemula bersama Bag Kinantan 082366380788/79184C71 - Modal menjadi momok yang menakutkan bagi para pemula yang ingin memulai untuk membangun usaha sendiri. Secara otomatis, pikiran kita akan langsung mengarahkan saat mendengar kata memulai usaha, maka modal (baca: uang) adalah hal pertama yang muncul. Dan kata modal ini yang sering membuat para pemula akhirnya urung menjalankan niatnya untuk membangun usaha sendiri.

cara memulai usaha tanpa modal - manajemen usaha untuk pemula - 082366380788


Salah? Tidak juga, mungkin karena informasi yang sampai ke kita selama ini seperti itu. Bahwa jika ingin membangun usaha sendiri mesti punya modal uang yang cukup. 

Kita lupa bahwa, modal dalam menjalankan usaha itu tidak hanya uang! Kenalan kita, keahlian kita, soft skill lain yang kita miliki itu adalah modal berharga untuk memulai usaha sendiri. Modal uang memang penting, tapi bukan itu yang paling penting. 

Lalu bagaimana? 

Sebelumnya sama sama kita baca dulu, jika ingin membangun usaha harus mulai dari mana?

Begini, dalam tulisan sebelumnya saya katakan bahwa jika ingin membangun usaha, sebaiknya anda tidak memulainya dari produksi. Karena apa? Produksi menyerap modal terlalu besar dan butuh energi ekstra untuk mengendalikannya. Anda bisa memulai usaha anda dari menjadi reseller, atau agen dari produk orang lain. 

Contoh yang selama ini saya lakukan :

Usaha konveksi yang saya jalankan selama ini, itu hampir NOL modal uangnya. Bahkan jika kita mau, modal –uang-nya bisa dibuat NOL sama sekali. Bagaimana caranya?

Pertama, dalam usaha konveksi, kita harus mencari pemasok (tukang jahit) yang dapat memberikan harga yang sangat bersaing. Sehingga kita bisa menjual lagi dengan harga yang bersaing pula. Jika anda kesulitan menemukan tukang jahit yang memiliki harga bersaing, anda bisa hubungi saya.

Setelah dapat pemasok (baca : tukang jahit, biasanya tukang jahit yang harganya miring itu ada di Bandung) mulailah kita berjualan. Sebelumnya perlu anda definisikan siapa pasar anda dulu, biar gak terlalu cape’ sebar iklan kesana kemari. Tawarkan jasa konveksi anda ke pasar potensial.

Selanjutnya saat ada yang sudah mulai nyangkut, sistem pembayarannya pelanggan mesti bayar DP sebesar 50% (karena dari bandung mensyaratkan bayar DP 50%), katakan produksi jalan setelah DP diterima. Setelah DP di terima kirim ke tukang jahitnya, produksi dimulai. Setelah sekitar 4 minggu orderan selesai, anda bisa minta pelunasan dari pelanggan. Setelah di bayar, anda kirim ke tukang jahit sisa yang belum dibayar plus ongkos kirim ke lokasi pemesan.  Selesai. Anda gak perlu keluar uang, dan anda dapat untung sesuai dengan selisih harga jual anda dan harga produksi ke tukang jahit.

Kalau gak mau repot, anda jadi agen saya, hubungi no 082366380788 nanti selanjutnya biar saya yang bereskan hehe. 

Jadi prosesnya : Cari Pemasok (Tukang jahit) ++> Mulai Tawarkan ++> ada yang mau, Minta DP 50% ++> Kirim DP ke tukang jahit ++> produksi 4 minggu ++> minta pelunasan ++> kirim ke tukang jahit, barang dikirim ke pemesan ++> barang sampai ke pemesan anda dapat untung dari selisih harga jual dan produksi.  

Dengan model ini, saya sudah menjalani usaha konveksi ini beberapa tahun belakangan, dan hampir tanpa modal sama sekali. Modal jaringan dan kepercayaan saja. Langganan saya sekarang tersebar dari Aceh sampai Lampung. Keuntungan yang saya dapat per proyek berkisar 500 ribu hingga 10 juta. Lumayan kan. Sebulan dapat 2-3 orderan saja dah menutupi biaya bulanan hehe. 

Masih berpikir bahwa memulai usaha harus modal uang? Hubungi saya kalo mau jadi agen di daerah anda, nanti saya ajarkan bagaimana sistem kerjanya.

akhirnya saya ingin katakan bahwa model ini dapat digunakan ke beberapa usaha, tidak hanya usaha konveksi. selamat mencoba  Cara Memulai Usaha Tanpa Modal semoga bermanfaat.

salam 

Cara menyusun Strategi Pemasaran : Untuk Pemula




Dalam Manajemen Pemasaran, pertama sekali yang kita pelajari adalah mendefinisikan pasar yang hendak kita sisir. Tujuannya apa? agar dapat disusun strategi pemasaran yang tepat untuk produk yang kita punya. Untuk mendefinisikan pasar itu, yang pertama sekali harus kita lakukan adalah melakukan apa yang disebut sebagai SEGMENTASI. Segmentasi adalah proses untuk membagi pasar menjadi beberapa lapisan. Sehingga akan lebih mudah menentukan target pasar yang potensial.
Proses segmentasi biasanya dimulai dengan membagi kelompok masyarakat berdasarkan tempat tinggal, jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan lain lain. Semakin spesifik semakin bagus. 

Langkah kedua adalah melakukan TARGETTING, dari segmen yang sudah kita susun tadi, kita kerucutkan lagi, berapa persen dari segmen yang ada tadi, akan kita jadikan pembeli dan langganan produk kita. Tujuannya sederhana agar tenaga, pikiran dan waktu tidak terlalu banyak terserap karena luasnya pasar yang ingin di sisir. 

Langkah ketiga adalah Positioning. Langkah ini adalah upaya kita masuk ke dalam benak konsumen kita.  Hal ini terkait juga dengan brand atau merek yang kita punya. Jadi kalau misalnya kita sebutkan satu hal maka masyarakat yang menjadi target pasar kita akan langsung teringat dengan kita. Misalnya kalau bicara Madu Hutan Asli, maka pikiran kita langsung tertuju pada REFILL MADU. 

Contoh:

Produk/ Jasa yang hendak kita jual adalah KONVEKSI SERAGAM 

Segmentasi : Sekolah (TK, SD, SMP, SMA), Kampus, Perusahaan, Komunitas, Usia di atas 18 Tahun, Berpenghasilan minimal 1,5 juta, tinggal di daerah Sumatera Utara, Aceh dan Riau
 
Targetting : Konveksi seragam untuk SMA, Mahasiswa dan Karyawan Perusahaan, berlokasi Sumatera Utara.

Positioning : Konveksi Seragam yang Murah, Berkualitas

Ini sekedar contoh.

Kalau produk anda sudah definisikan pasar anda?

Semoga bermanfaat

Selasa, 11 November 2014

Cara Menjual agar Lebih Mudah

Sering muncul pertanyaan, bagaimana caranya agar menjual lebih mudah dan mengurangi penolakan?

ada 3 syarat agar sukses menjual, yaitu Rapport, Rapport, Rapport.

Rapport adalah jembatan untuk masuk ke dalam pikiran dan perasaan lawan bicara kita. Rapport didefinisikan sebagai kesediaan pihak pihak yang berhubungan untuk saling mempengaruhi secara bawah sadar. (Robert Dills).

Ingat bahwa saat menjual, kebanyakan konsumen melakukan transaksi (menurut survey hampir 80%) adalah karena si penjualnya, bukan karena produknya. kemampuan sipenjual membangun hubungan yang baik itulah yang membuat konsumen menjadi 'percaya' dan akhirnya mau melakukan transaksi dengan kita.

Untuk dapat membangun sikap saling percaya itu, kita harus mampu mempengaruhi dan si konsumenpun mau dipengaruhi. untuk itu kita perlu membuka 'pagar' pikiran dan perasaan konsumen, itulah yang disebut sebagai Rapport.

Lalau bagaimana membangun rapport? pertama sekali dengan membangun kesamaan. kita pasti senang berinteraksi dengan orang yang kita ketahui memiliki banyak kesamaan dengan kita. misalnya kita bertemu dengan orang satu daerah dengan kita di perantauan, karena sama dari satu daerah,walau berbeda kampung, misanya

nah, ternyata rasa percaya itu lebih mudah muncul karena adanya kesamaan.

kalau yang pernah belajar NLP, cara membangun kesamaan itu dengan matching dan mirroring. sederhananya kita berusaha -nyama-nyamain- dengan konsumen kita, baik dari gerakan, intonasi, kata kunci dari pembicaraan dan lain lain.

Kunci sukses menjual adalah kepercayaan dari konsumen kepada kita penjual, untuk membangun kepercayaan itu kita harus mampu menjadi teman yang 'nyaman' bagi konsumen, cara bagaimana agar menjadi pribadi yang nyaman untuk di ajak bicara? dengan membangun Rapport, membangun jembatan ke pikiran dan perasaan konsumen.

semoga bermanfaat
salam

Cara Membangun Organisasi yang Kuat

Ketika saya membaca buku yang ditulis oleh John Wood, saya menemukan beberapa catatan yang ia buat. Catatan itu tentang bagaimana organisasinya ini dapat mendunia. Saya tidak ingin terlalu luas berbicara ‘dunia’, namun kita akan berbicara bagaimana membangun organisasi kita menjadi kuat. Tentunya untuk membangun sebuah bangunan organisasi yang kuat, harus memiliki pondasi yang kuat pula. Organisasi yang dimaksud di sini adalah organisasi bisnis atau organisasi sosial. Dan pondasi-pondasi itu adalah empat hal (plus dua) yang akan saya ceritakan di sini. 

1. Berorientasi pada hasil 

Produktivitas seseorang atau organisasi terlihat dari hasil-hasil kerja yang mereka lakukan. Hasil-hasil ini tentunya adalah hasil-hasil kerja positif. Banyak terjadi hari ini organisasi yang ada hanya banyak melakukan pekerjaan namun sedikit dalam output kerja mereka. Mungkin sebagian dari kita masih berorientasi pada proses. Ada jargon yang sering kita dengar bahwa, “yang paling penting adalah prosesnya, hasil itu ngikut sendiri.” Jargon ini ada benarnya dan tidak selamanya benar. Memang kita harus memperhatikan proses dari pekerjaan kita, proses yang salah akan mempengaruhi hasil. Namun, melulu menikmati proses juga bukan pekerjaan yang produktif. Tetap ada target-target output dari pekerjaan yang kita lakukan. Tetap ada target-target pencapaian waktu penyelesaian pekerjaan. 

Kehidupan yang dinamis saat ini memaksa kita dan organisasi kita untuk cepat merespon apa-apa yang terjadi di lingkungan kita. Keterlambatan respon atas kejadian-kejadian di sekeliling kita akan menyebabkan organisasi kita semakin tertinggal dan ditinggalkan. Ingat bahwa waktu tidak pernah menunggu. 

Kita harus mengubah pola pikir kita yang tadinya ‘baru’ berorientasi pada proses menjadi orientasi kepada hasil kerja. Hal ini dilakukan bukan berarti menghalalkan segala cara untuk mencapai semua target yang telah kita canangkan. Namun tetap memperhatikan input dari proses dan proses itu sendiri. Hanya saja, proses yang kita lakukan dipaksa (kalau boleh begitu bahasanya) untuk mencapai target output dan target waktu yang telah ditetapkan di awal. Kegiatan ‘memaksa’ di sini dapat dipandang sebagai upaya-upaya seperti memperbaiki kualitas input, memperbaiki kualitas proses pengerjaan dan perbaikan-perbaikan lainnya. Hal ini semata-mata dilakukan untuk mengikuti cepatnya gerak langkah lingkungan tempat kita tinggal saat ini. 

2. Jangan menyepelekan data 

Informasi adalah salah satu input dalam proses pengembangan pribadi atau organisasi. Informasi yang bertebaran di sekeliling kita adalah makanan yang harus di konsumsi demi meningkatkan daya saing organisasi. Orang-orang yang ketinggalan informasi dengan sendirinya akan tercecer dari persaingan global. 

Data adalah penyusun informasi itu sendiri. Dari data yang akurat maka akan didapatkan atau dihasilkan informasi yang akurat. Terutama bagi organisasi Bosnia, data adalah makanan yang harus selalu dikumpulkan dan dimakan. Dari data ini keluarlah strategi-strategi untuk memenangkan persaingan. 

3. Pekerjakan orang-orang cerdas 

Meletakkan orang-orang cerdas di posisinya adalah cara yang paling efektif dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi. Banyak organisasi yang gagal beroperasi karena diisi oleh orang-oran yang tidak memiliki kemampuan di bidang tersebut. Untuk itu di awal sangat penting bagi organisasi untuk melakukan seleksi yang ketat dalam menempatkan orang-orang yang bekerja dalam organisasi. 

Selain itu, orang-orang yang cerdas akan memiliki energi yang jauh lebih besar dibandingkan orang orang biasa di sekelilingnya. Akan ada selalu diskusi yang hangat ketika kita sedang membahas sebuah masalah. Akan banyak ide-ide bermunculan saat mencari solusi atas masalah yang sedang dihadapi oleh organisasi. Dan satulagi, orang-orang cerdas akan sangat mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan yang senantiasa berubah. Mereka akan mudah untuk terus belajar dan belajar menghadapi tuntutan perubahan lingkungan. 

4. Bangun loyalitas orang-orang anda 

Organisasi akan maju jika diisi (selain orang cerdas) oleh orang-orang yang loyal. Namun, membangun loyalitas adalah sebuah pekerjaan yang sulit dan memakan waktu yang tidak sebentar. Dengan menerapkan trik ini, anda akan dapat membangun loyalitas orang-orang anda. Langkah yang harus anda ambil hanya satu, yaitu : Anda harus menunjukkan loyalitas anda kepada orang-orang anda. Bagaimana caranya? Caranya adalah hargailah keberadaan mereka, jangan menganggap diri kita lebih baik dan lebih tinggi dibandingkan mereka. Pandanglah mereka sebagai rekan kerja. 

Tindakan nyatanya adalah sering-sering ajak bawahan anda untuk makan bersama, olahraga bersama atau kalau perlu anda ajak ke rumah, ajak menginap dan makan di rumah anda.Dengan demikian mereka akan merasa sangat dihargai dan mereka akan balik menghargai anda sebagaimana yang anda lakukan padanya. 

5. Ciptakan suasana kerja yang dinamis 

Pada dasarnya, manusia itu senang dengan kehidupan yang menantang dan dinamis. Jika kita membaca ulang sejarah kehidupan kita, kita akan menemui sebuah fakta bahwa sejak masih berbentuk sel sperma, kita telah berkompetisi untuk mendapatkan satu tempat di dunia ini. Dan kita membuktikan bahwa kita berhasil untuk hadir di dunia. Namun, saat kita terlahir, iklim kompetisi itu terasa terus berkurang. 

Sama ketika kita melakukan kerja-kerja di organisasi, ketika iklim kompetisi (yang positif tentunya) itu hadir di tengah-tengah organisasi, setiap anggota organisasi akan berusaha untuk ikut ambil bagian. Untuk membuktikan ini, anda perlu menguji cobakan teori ini. 

6. Bangun jaringan 

Jaringan kerja adalah penguat eksistensi kita. Sekuat apapun modal dan fisik kita, jika kita kerja sendiri, maka hanya kehancuran yang akan kita temui. Beton, dinding itu kuat karena ada jaringan antara pasir, semen, air, batu, besi dan batu bata. Jika saja air tidak hadir maka tidak akan adabangunan yang berdiri. Begitu juga saat kita membangun sebuah tim atau organisasi. 

Inilah enam bagian yang dapat kita lakukan guna menciptakan organisasi yang tangguh. Keenam ini 
adalah bagian kecil dari berbagai tips untuk membangun sebauh organisasi yang kuat. Yang 
perlu dilakukan saat ini adalah segera mengambil tindakan nyata guna mewujudkan apa-apa yang  kita cita-citakan.